Trek,trek, trek. “Permisi! RYAN, RYAN!!!” , Panggil William yang baru saja sampai rumah adik angkatnya yang berbeda tiga tahun ini.

“ya, kak!” Ryan bergegas keluar pintu rumahnya dan membukakan pagar. Ia mempersilakan William masuk. Tampaknya William masih perlu menunggu sebentar sebelum berangkat untuk berenang seperti yang sudah direncanakan mereka minggu lalu. Ryan masih siap-siap dengan keperluan renangnya sedangkan William bermain dengan anjing mini pom peliharaan Ryan untuk mengisi waktu.

“Ryan, dua temen lu udah siap blom? Dah mao lewat waktu yang dijanjiin nih.”

“Kenapa kak? Ada urusan ya nanti siang?” tanyanya sambil memasukan barang dan minum segelas air.

“i.. iya, nanti sore musti ke kampus lagi soalnya”, jawab William dengan gugup ketika melihat tegukan tenggorokkan Ryan. Ia merasa darahnya berdesir kecil melihat otot-otot leher adik angkatnya bergerak. “Dah siap? Jalan yuk!” lanjutnya memecah ketegangan dalam dirinya sendiri.

“Ya, ya. Gw telpon temen gw dulu ye.”

. . .

“Dah yok, mereka dah siap.”

Ryan mengendarakan mobilnya memutari beberapa gang dalam komplek perumahannya dan berhenti di depan salah satu rumah kecil berpagar putih yang terbuka. William baru tahu ini rumah Tom yang dari minggu lalu dibicarakan oleh Ryan. Tom ternyata masih bersiap-siap sebentar dan William membuka percakapan tentang sekolah Ryan. Adik angkatnya ini memang baru lulus kelas tiga SMA. Selama percakapan tak berhenti-hentinya William memperhatikan Ryan dengan penuh penghayatan. Kulit, otot, setiap indera yang berada dimuka Ryan diingatnya dengan baik dan tidak terlepas juga sesekali melirik ke lengan Ryan yang atletis.

Tom masuk mobil dan segera duduk, “Sorry,sorry lama, yuk jalan”. Ia berperawakan dengan badan yang cukup bidang di seusianya enam belas tahun, sebagai anak tim basket tubuhnya menjadi proporsional sekalipun ototnya tidak begitu terlihat tapi cukup jelas menggambarkan perawakannya yang akan terbentuk menjadi seorang atlit berperut sixpack. Mukanya sedikit kotak dengan rambut yang pendek, senyumnya yang lebar membuatnya tampak ramah bagi William yang ternyata pernah bermain basket bersama di lapangan perumahan itu.

Selanjutnya, mobil hanya berjalan melewati lima blok rumah dan sampailah di rumah Delvin, peserta terakhir dalam acara berenang ini. Tak perlu berlama-lama, Delvin sudah siap dan mereka semua langsung menuju apartemen dekat perumahan. Sesampainya disana mereka semua naik ke lantai lima tempat kolam renang dengan air biru bening dan sepi di apartemen itu, kolam ini memang sangat jarang sekali digunakan oleh penghuni. Di sana hanya ada beberapa kantin yang ditunggu oleh dua orang dan seorang penjaga kamar bilas yang selalu nongkrong di kantin tersebut.

Jumat awal Mei itu sungguh sepi. Di sana hanya mereka berempat saja yang berenang jam 9.30. Seluruh tas sudah diletakan di bangku pinggir kolam dan dengan segera Tom serta Delvin membuka baju dan celananya. Mereka berdua kemudian melakukan peregangan. Tubuh mereka tidak jauh berbeda, hanya Delvin terlihat lebih gemuk sedikit. Ya, Delvin juga seorang pemain basket dengan wajah sedikit kotak yang lucu. Hitam matanya hampir bulat dengan bibir yang kecil yang menawan, rambutnya cepak seperti Taylor Lautner saat masih kecil. William juga tidak melepaskan momen tersebut begitu saja, ia melirik ke arah celana renang ketat Tom dan Delvin. Gundukan kecil yang merangsang terlintas begitu saja, kontol pemain basket muda yang segar tercetak jelas dalam celana renang biru yang ketat itu. Otot kaki dan lengan mereka pun terlihat jelas saat peregangan sebelum berenang. Tubuh yang belum sempurna itu sungguh menggoda organ visual William yang tertarik dengan remaja-remaja muda.

“Kak, pinjem kacamata renang dong. Ada gak?” pertanyaan Ryan memecah perhatian William yang sedang berada dalam dunia imajinasinya sendiri.

“Eh, iya? Ada-ada, kebetulan bawa dua nih. Mao yang item apa yang biru?” William mengambilkan kacamata renang dari tasnya.

“Gw yang biru aja deh, kak, biar lebih jelas liat di bawah aernya.”

“Hahaha, pas banget. Kacamata renang gw yang item ini.” Ryan mengambil kacamata yang disodorkan kepadanya dan segera memakainya, tetapi William kembali ke dalam imajinasinya yang terdalam. Ryan ternyata sudah tidak mengenakan baju dan hanya celana renang hitam ketat yang dikenakannya. Burung yang masih tertidur dibalik celana renangnya terlihat cukup besar untuk ukuran anak Asia kelas 1 SMA, ditambah lagi bulu yang rapi keluar dari celana renangnya menjalar sampai ke pusar yang berada di tengah-tengah otot perut yang hampir terbentuk. Ya, Ryan memang pemain tim basket bersama Tom dan Delvin, bedanya ia merupakan ketua tim yang diidolakan sebagian besar teman perempuannya. Dadanya yang bidang dan dua puting yang terpaku dalam menonjol dengan jelas. Wajahnya yang mirip David Archuleta memang melengkapi segalanya (imut dan tangguh).

“Kak, buruan buka bajunye, dah pada berenang tuh. Hahahaha.” Sela Ryan membalik badan menuju kolam dan loncat ke dalam kolam renang. Ia menengahi teman-temannya yang sedang lomba berenang di kolam renang sepanjang delapan belas meter. Pemikiran William yang buyar disambut langsung dengan membuka baju dan celana serta pemanasan otot-ototnya di pinggir kolam.

Seseorang dari kolam melihat William dengan tatapan malu dan takut. William adalah orang yang diidolakannya, kakak yang baik dengan muka hampir sempurna, dan badan yang menjadi obat perangsang terbaik baginya. William mempunyai muka layaknya Brent Everett, badan yang atletis hasil dari berlatih badminton rutin dengan latihan fisik. Otot yang tidak berlebihan kekar membuatnya menawan dilihat dari sisi mana pun. Ia mempunyai dada bidang yang sangat menggoda dan berperawakan tegak. Celana renang birunya yang ketat memperlihatkan cetakan senjata laki-laki terbaik di usianya, sekalipun masih tertidur panjangnya mencapai sekitar 8 cm.

Mereka berempat berenang bersama, berlomba menjadi yang tercepat, dan bercerita-cerita tentang sekolahnya. William menjadi pendengar yang baik selama cerita-cerita lucu dan kenangan semasa sekolah Ryan, Tom dan Delvin. Begitu banyak pengalaman mereka bertiga ketika menggila bersama, dimarahi gurunya, dan bermain basket. Satu jam berlalu dan mereka semua sudah lelah berenang. Tom dan Delvin ijin duluan ke kamar bilas sedangkan William dan Ryan masih bercanda di kolam.

Saat itu jam 10.34, penjaga bilas sudah terlelap di kantin dan penjual di kantin itu sedang sibuk di bagian dalam mempersiapkan pesanan penghuni apartemen. Tom dan Delvin sedang membilas tubuhnya, sepertinya akan berlangsung cukup lama. Ryan berenang mendekati William dan menyapanya

“Kak, cape juga lomba berenang terus. Tom ama Delvin biasanya lama kalo bilas, nunggu di kolam renang bisa mengkerut duluan nih. Hahahaha”

“Hahaha, iya? Ya dah naek duluan gih, keringin badan sebelum lu bilas. Gw satu putaran lagi baru udahan dah.”

Ryan yang memang sudah lelah menuruti saja saran kakak angkatnya tetapi saat ia hendak naik dengan melompat dari dalam kolam, William dengan sigap memeloroti celana Ryan bahkan celana dalamnya juga ikut terlepas dari kulitnya. Ryan yang kaget jatuh ke belakang dan menimpa William dan segera mengelak dari tubuh atlet badminton itu. Ryan segera menutupi senjata terbaiknya dalam membuat keturunan yang sudah mengkerut karena dinginnya air. William yang sudah mengambil napas segera naik dan meletakkan celananya agak jauh dari pinggir kolam, ia sudah mulai memegang kendali atas Ryan yang cukup malu dan hormat terhadapnya.

Ryan yang sangat mengidolakan kakak angkatnya, William, tidak mampu menyembunyikan perasaannya lagi sekarang. Burung yang tertidur itu mulai berdesir darahnya, degupan jantung yang semakin keras terasa di ubun-ubun kepala, dan air kolam mulai seperti air hangat ter-rileks di dunia. Ryan semakin kalang kabut dan membalikan badan dari William.

“KAK, JANGAN BECANDA AH. MALU NIH. BALIKIN CELANA GW, KAK.”

Cepluk, byur~ ssshrrr

Suara William masuk kembali ke kolam dan angin bertiup sedikit kencang. Hari semakin siang dan suasana terasa menghangat. Perasaan malu dan hormat merubah detak jantung menjadi kencang dan suhu tubuh meningkat. William mendekati Ryan dan memanggil nama adiknya terkasih.

“Ry..Ryan, gue cuma bercanda kok, tapi gue pengen kasih tahu lu satu hal.”

Byaaar, mmh,.. uummh

Begitulah suara Ryan yang dengan tiba-tiba membalik badan dan mencium William. William memang berdiri di belakang Ryan terlalu dekat. Dengan kemampuan otak berpikir secepat kilat ia merasa bahwa itu hanyalah kejadian tidak disengaja ketika Ryan memutar badan sehingga segera ia lepaskan ciuman itu. Namun apa daya William menahan desiran nafsunya yang dalam dan selama pagi ini ia tahan. Ciuman itu cukup untuk membuat seluruh hormon ephinephrine dan norephinephrine dalam tubuhnya bekerja. Suhu tubuhnya meningkat, mukanya memerah, darah mengalir begitu cepat hingga nafasnya pun membara, tak ada yang dapat William lakukan lagi untuk menahan gelora asmara dalam dirinya, “adiknya” pun terbangun dengan panjang 17 cm. Glans penisnya mencuat keluar dari celana renang dan matanya semakin melekat terhadap muka manis Ryan, tubuh, otot dan burung yang sedang Ryan tutupi di bawah air sana.

“mmh, Kak William, aku suka sama kakak.” Suara parau Ryan menyelip ke dalam telinga William.

William terdiam seribu kata, adik angkat yang selama ini ia sayang dan cintai ternyata mempunyai perasaan yang sama terhadapnya. William melihat bahwa tangan besar Ryan tidak mampu menutupi besarnya si “adik” di bawah air sana. Panjangny mencapai sekitar 15 cm dan bewarna ungu gelap. Yaa.. warna yang sangat menggoda dari darah yang hangat, darah Ryan. Ryan bergerak perlahan ke arah William dan memeluknya dengan hangat, burungnya menyentuh tubuh atlit badminton dengan tegak mengejar panjang burung William. Ryan pun sadar bahwa kakak angkatnya itu dalam nafsu yang bergelora.

“Kak, kakak juga suka sama aku?” dengan nada takut, ingin, kaget dan sayang Ryan memperdengarkan suaranya lagi. Kepalanya masih menunduk dan bersender di dekapan dada William. William masih terdiam dan tangan mulai naik merangkul Ryan.

“Ryan.. kakak sangat sayang sama kamu sejak pertama kali kita maen basket bareng. Kakak pengen terus coba untuk kasih ke kamu apa aja yang bisa kakak kasih. Tapi kakak pikir, untuk mengayangi sesama dan mencintai sesama itu salah, tapi hari ini kakak baru aja mau kasih tahu kamu kalo. . .”

“kak..” Ryan menengadah menatap muka William yang merah padam.

“aku ingin kakak, boleh?”

Dalam pelukan, Ryan ditarik William ke pinggir kolam. Sebelum William sempat berkata dan beranjak dari kolam, Ryan mencumbu putingnya yang melenting dan penuh syaraf. Ia lemas tak sanggup.

“Yan, tung.. aah, tunggu dulu.” Sambil mendorong Ryan dan naik mengambil celana renang Ryan dengan segera mengembalikannya di bawah air.

“Hoi, Ryan. Sono bilas, sorry lama. Kelamaan di aer mengkerut lo. Hahahaha” Suara Delvin yang bersama Tom keluar dari kamar bilas. Dalam kekagetan Ryan dan William beranjak dari kolam dengan segera mengambil perlengkapan bilas dan menuju kamar bilas.

Kamar bilas tersebut terdiri dari 6 bilik yang hanya 2 bilik saling bersebelahan saja yang dapat di kunci. Mereka berdua masih terdiam membisu dan masuk di bilik yang terpisah. Suara aliran air dan gosokan tangan yang bersabun pun mulai terdengar. Namun, kebisuan lidah tidak menutup keberanian akan nafsu manusiawi. William mencoba memanjat dinding kamar bilas dan memperhatikan Ryan yang sedang membilas tubuh bengal berisinya itu dibawah aliran air yang terbilang hangat. Perlahan adik William pun mulai bangkit dan bergelora meminta kehangatan sex. Ia memanjat ke kamar bilas sebelah dan memeluk Ryan yang terkejut dalam nuansa terindahnya.

Ryan pun bernafsu kembali, tetap dalam kebisuannya ia mencumbu William. Mencium bibir William yang menawan, Ryan mengelus dadanya yang atletis serta meraba buah pantatnya yang menawan. Seluruh syaraf dalam tubuhnya meminta kehangatan ini, kasih sayang dan cinta kakak angkatnya. Penisnya yang tegak di rangsang oleh tangan William dan testisnya di permainkan sehingga ada rasa kejang, sakit dan nikmat yang menjalar dari bagian vital Ryan.

Lama mereka menikmati kasih dari lidah dan air liur masing-masing, William mulai menjilat turun. Menuruni leher dengan jakun yang menggoda, dada dan puting Ryan yang melenting dikulum, dijilat, dan dihisap dengan keinginan memiliki seutuhnya. Dengan tangannya, William mengangkat dan menyenderkan Ryan di dinding, menyodorkan penisnya yang terbalut sabun di bawah aliran shower hangat menembus anus Ryan. Anus yang masih sempit dan hangat berdenyut. Perlahan demi perlahan dalam erangan kesakitan dan kenikmatan Ryan, William memasukkan penisnya yang panjang itu. Keinginan memiliki tubuh Ryan seutuhnya membuatnya lupa diri, Ia mempercepat gerakan penetrasi yang dalam dan menyentuh dinding anus Ryan, dinding yang bersentuhan dengan kantung penampungan pejuh yang bersyaraf banyak.

Rasa perih telah berganti kenikmatan tiada tara. Ryan yang semula meringis mulai memainkan mulutnya untuk menghisap air liur William. Penisnya tegang menjulang tegak, dengan urat biru semakin menghiasinya kokoh dan menakjubkan. Satu tangannya merangkul di leher William dan yang lainnya memilin puting William. Rasa percaya kepada kakak angkatnya mengalahkan segala rasa sakit dan mencapai kenikmatan badaniah tertinggi, orgasme. Dengan lenguhan panjang dan lembut Ryan mengakhiri nafsunya, ia mengalami orgasme, kenikmatan badaniah dan rohani terindah. Kata puas yang dapat menggambarkannya. Spermanya yang kental putih melumuri dada bidang William dan dengan perlahan di bawah shower hangat jatuh ke lantai.

William pun mulai kewalahan, tekanan otot anus yang kuat dari seorang atlit basket selama orgasme itu menekan seluruh syaraf penisnya. Di dalam anus yang hangat, kejutan listrik menjalar menuju otaknya. Ia pun mencapai orgasmenya yang pertama seumur hidupnya. William mengeluarkan sperma, benih-benih kehidupan dirinya di dalam Ryan. Seluruh otot tangan dan kakinya mulai mengendur. Penisnya mulai mengecil dan setelah 3 menit barulah keluar dari lubang perawan Ryan.

Hari itu, hari jumat awal bulan Mei, Ryan dan William kehilangan keperjakaan dan keperawanannya. Mereka menjadi kekasih terselubung. Kedekatannya bukan semata-mata fisik atletis tapi juga rasa kasih yang saling menolong dan tempat bercerita setiap ada masalah.