Pekerjaan sebagai dj (disk jockey) mengharuskanku bekerja tanpa batas waktu. Pagi, siang, malam, subuh, setiap saat, kapan pun dan dimanapun, dari café, bar, lounge, hingga penuntun pada konser musik para artis. Bisa dibilang, musik sudah menjadi kehidupanku. Tanpanya, aku merasa kesepian dalam hidup ini.

Jangan salah. Meski banyak orang, baik lelaki maupun wanita, yang mendekatiku untuk diajak tidur bersama, aku harus tetap professional. Aku tidak ingin mencampur-adukan antara perkerjaan dan kehidupan pribadi.

Apabila pekerjaanku tidak mengharuskan pulang malam, aku menghabiskan sisa waktu untuk hobi yang lain, online. Selain meng-download lagu – lagu baru, aku juga mencari kesempatan untuk browse di beberapa web yang berunsurkan tokoh kartun lucu, fashion, dan tentunya, gay.

Website ‘F’ adalah sebuah website mancanegara yang berbasis di Asia. Meski demikian, anggota membernya mencakup seluruh dunia. Ketika sedang browse di suatu tempat, Hong Kong, aku melihat profile seseorang dengan gambar tokoh kartun kesukaanku, Donal Bebek, dengan gayanya yang klasik. Sebut saja namanya Kenneth.

Orang itu langsung mengirim balasan. Hatiku serasa mengambang tinggi. Kamipun akhirnya chat melalui salah satu provider yang tersedia. Keakraban kami yang berdua yang tergolong cepat membuat rasa rindu tersendiri, begitu juga dengannya. Usianya hanya berbeda 2 tahun dariku. (Dia 27 tahun dan aku 25 tahun) Hampir setiap pulang kerja atau bahkan sering, sebelum pulang kerjapun, aku serasa ingin pulang cepat dan ngobrol dengannya. Walau demikian, kami hanya sedikit membahas mengenai pekerjaan masing – masing, dan tidak sekalipun kami pernah mengirimkan foto – foto pribadi.

Suatu hari, salah satu agency Hong Kong yang pas kebetulan sedang berada di Jakarta, mengambil kesempatan untuk menonton konser salah satu diva Indonesia, dimana tentunya aku menjadi penuntun musik sang penyanyi. Agency yang melihat performa itu sepertinya sangat puas dengan kehebatanku dalam mengatur musik, pembawaan lagu, dan sebagainya.

Setelah konser, mereka menawariku sebuah tawaran untuk membantu mereka dalam konser amal yang akan diadakan setengah tahun lagi. Konser itu adalah konser agung yang akan dibawakan oleh para penyayi baru dan bertaraf internasional. Mereka memberikanku waktu seminggu untuk berpikir sebelum mereka balik. Aku menyetujuinya. Pekerjaan ini mengharuskan aku tinggal di Hong Kong hingga selesai konser.

Aku kemudian memberitahu Kenneth bahwa aku akan pergi ke Hong Kong bulan depan. Dia sangat senang dan berjanji akan membawaku keliling Hong Kong, 2 minggu setelah aku tiba dikarenakan ia memiliki pekerjaan yang sangat sibuk yang tidak dapat ia tinggalkan. Sedikit kecewa memang, tapi aku menghargai karena kejujurannya.

Setelah aku tiba, kesibukanku langsung dimulai setelah aku menaruh barang – barangku di apartment yang sudah disediakan. Aku dibawa ke stadium dimana konser akan berlangsung dengan kapasitas lebih dari 1000 orang. Disana aku berkenalan dengan banyak orang baru. Keahlianku dalam berbahasa Mandarin membuatku lebih mudah berkomunikasi dengan mereka, walau kebanyakan dari mereka tidak fasih. (Bahasa Kanton adalah bahasa utama ‘negara’ Hong Kong)

Malam pertama terlewati dengan sangat melelahkan, tapi untungnya udara sejuk di kota itu membuatku sedikit lebih baik. Aku kemudian mencoba menelepon Kenneth, dan tak kusangka ia menjawab panggilanku. Ia terdengar sangat senang dan meminta maaf karena tidak bisa menemaniku saat itu.

Beberapa hari kemudian, di antara sekian banyak orang di ruang nyanyi aku melihat seorang lelaki yang membuat jantungku berdetak kencang. Selain modis, ia juga memiliki ukuran tubuh yang sangat proporsional. Kuperkirakan tingginya sekitar 180an cm dengan berat 75an cm, dengan mata yang sipit dan kulit kecoklatan segar. Tampaknya ia tahu aku memerhatikannya, dan ia membalas dengan senyuman yang membuat lututku bergetar.

Kuketahui bahwa ia adalah salah satu aktor dan penyayi yang sedang naik daun. Aku mendapatkan kesempatan untuk berada di dekatnya karena semua penyanyi yang sedang naik daun inilah yang menjadi tugasku dalam membawakan musik – musik mereka. (ada 20 orang) Entah mengapa, dari sifat (walau belum pernah bertemu) dan suara dan bentuk tubuhnya aku merasa dia adalah Kenneth. (Aktor tersebut menggunakan nama Chinese dan aku juga) Memang hampir orang Hong Kong terlihat sama, tapi apakah itu mungkin dia?

Ketika melamun, ia menghampiriku dan mengajakku makan malam. Jelas aku menyetujuinya. Ia mengajakku makan malam. Dalam perjalanan, ia sangat terkejut ketika mengetahui bahwa aku adalah orang Indonesia. Ia berpikir aku adalah orang Hong Kong atau Cina Daratan. Ia mengatakan bahwa ia juga memiliki teman dari Indonesia yang sedang di Hong Kong, namun karena kesibukannya ia belum dapat bertemu dengannya.

Demi kesempatan yang ada, aku mencoba menelepon Kenneth. Oh, terima kasih atas hadiah ini. Hp-nya berbunyi dan ia menjawab panggilanku. Kami berdua saling memandang satu sama lain.

“Kamu Kenneth?” Tanyaku.

“Kamu Eric?” Balas dia.

Kami tertawa panjang lebar, dan ia langsung memutar balikan mobilnya dan mengajakku makan malam di restoran khas Hong Kong dengan pemandangan seluruh pulau Hong Kong juga. Romantisnya….

Ia sungguh tidak menyangka bahwa aku adalah orang yang ia ingin ketemui sejak lama. Makan malam kami lewatkan dengan canda tawa, pertanyaan pribadi (yang sudah lama ingin kutanyakan dari dulu), dan kehidupan kami masing2. Selesai makan pun, ia kuundang ke apartmentku. Baik ia atau aku serasa tidak ingin kehilangan masing – masing. Sambil minum wine, kami bercanda tawa kembali hingga akhirnya ia mencoba untuk menciumku. Tentunya tidak aku tolak. Aku sudah lama ingin mencumbunya, bermain cinta dengannya, dan malam ini adalah harinya.

Ia membuka bajunya, demikian juga aku. Aku lalu membantu melepaskan celana panjangnya, dan juga sebaliknya. Sambil berpelukan, kami berciuman kembali hingga akhirnya sama – sama melepaskan celana boxer yang kami kenakan. Bisa kulihat seluruh tubuhnya yang berisi. Dada bidang, nipple-nya yang sudah mengeras dan berwarna kecoklatan, bulu – bulu halus mulai dari dada turun ke perut, dan penisnya yang indah yang berukuran panjang standar tapi diameter yang gemuk, dan belum disunat. Penisku menjadi lebih keras setelah melihatnya.

Kami pun mulai melakukan pemanasan sex. Dalam sekejab, tubuh kami sudah berkeringat. Tetes demi tetes berjatuhan di atas lantai, dan kami saling mengoral satu sama lain. Aku memang menyukai penis yang gemuk dan uncut ketimbang yang panjang. Sepertinya ada kenikmatan tersendiri saja. Ia terlihat kegelian dan kenikmatan ketika aku mengoral penis.

“Kamu hebat banget. Aku menyukai cara oralmu.” Ia berkata kemudian menciumku kembali.

Sambil berpelukan dan menggesekan penis kami satu sama lain, ia menyupang dadaku. Ia lalu menggigit kedua nipple-ku dengan keras sambil aku mengocok penisnya.

“Ah, kamu mau keluar.” Kesan Ken.

“Kita keluar bareng ya? Ayo, Ken….Ayo…aku ingin kamu membasahi dadaku dengan spermamu.”

“Oh, Eric. Aku juga ingin spermamu melumuri dadaku dan perutku. Ayo berikan Eric.”

Tak lama, kami keluar barengan. Tubuh kami berdua serasa dikejutkan dengan listrik. Sperma kami muncrat keluar dengan sangat kuat hingga ada beberapa tetes yang mendarat di leher kami. Aku lalu jatuh kedalam pelukannya dan kami berciuman kembali. Kami lalu pergi bilas. Dalam keadaan telanjang bulat, kami tiduran di tempat tidurku.

“Lalu bagaimana dengan kita?” Tanya Eric.

“Aku ingin kita jadian, tapi masalahnya aku bakal kembali lagi ke Jakarta setelah konser usai. Apa kamu siap untuk berpacaran jarak jauh?” Tanyaku.

Tanpa berpikir ia meng-iya-kan pertanyaanku. Ia mengatakan bahwa ia memang sudah siap apabila aku bertanya pada dia dari dulu. Kami lalu mencoba untuk berpacaran (tanpa diketahui siapapun tentunya). Dari awal aku sudah mengetahui resiko berpacaran dengan seorang entertainer tapi tetap aku jalani. Toh, aku tidak berada di tempat itu setelah konser itu, walau hingga saat ini, 3 tahun kemudian, aku sering bolak balik Jakarta – Hong Kong, begitu juga dengan dia. Tampaknya ia menyukai Bali dan Yogyakarta. Apa ada kemungkinan ia pindah kesini? Pertanyaan ini biarkan waktu yang menjawab.