Sabtu itu gwe iseng jalan jalan seorang diri ke
puncak dengan kendaraan umum. Setibanya di
puncak gwe mampir di salah satu kedai sambil
menyeruput kopi susu hangat. Tak lama
kemudian muncul dua lelaki berkebangsaan
arab memesan mie instant dan teh hangat.
Tentu udah pada tahu bahwa di puncak banyak
orang orang arab yang mengadakan kawin
kontrak dengan cewek cewek lokal disini. Dan
sebagai seorang homo tulen, gwe terpesona
melihat kedua orang arab ini. Dua duanya
ganteng dengan brewok di dagunya. Badanya
tercetak bagus dibalik tshirt putih yang
digunakannya.Dan lalu gwe mencoba
peruntungan membuka percakapan dengan
mereka.
Gayung bersambut dan akhirnya gwe
berkenalan dengan dua lelaki arab itu. Yang
satu memang berkebangsaan Afghanistan.
Namanya Khalif dan satu lagi berasal dari Irak
bernama Akhbar. Mereka berdua berusia 35
tahunan. Mereka sedang menjalani kawin
kontrak dengan gadis loka. Dan sekarang
menurut mereka istri istri mereka sedang
pergi ke Bandung karena ada urusan selama
sebulan. Khalif sempat berkomentar bahwa di
hawa yang dingin ini tak enak menghabiskan
malam sendiri. “kan bisa cari pengganti?” kata
gwe sambil memainkan sedotan minuman gwe
dengan sedemikian rupa. Khalif melihat itu lalu
tersenyum dan menawarkan apakah gwe mau
berkunjung ke tempat tinggalnya?
“Nginap juga nggak apa apa. Daripada balik ke
Jakarta malam malam begini,” kata Khalif yang
gwe menangkap ada maksud tersirat dengan
tawaran itu.
“saya nginap kok di hotel A,” kata gwe lagi.
“Mau mampir dan ngobrol daripada suntuk di
rumah nggak ada istri.”
Khalif dan Akhbar menyambut ajakan gwe dan
kita bertiga lalu menuju hotel A yang yang tak
jauh dari taman wisata di daerah puncak.
“Kamu pasti homo ya? Terlihat dari cara kamu
memandang kita dan caramu ingin mengajak
kita,” kata Akhbar begitu kita sudah berada di
dalam kamar.
“Seperti yang saya bilang, istri kami lagi pergi
dan sudah lama kami nggak bercinta dan saya
sendiri nggak keberatan menyodomi lelaki,”
kata Khalif
“saya juga,” kata Akhbar
“dan saya nggak keberatan,” jawab gwe.
Khalif dan Akhbar lalu menelanjangi gw setelah
menelanjangi diri mereka sendiri. Dan gwe
terpana melihat kedua kontol arab mereka.
Seperti yang sudah diduga, kontol arab
memang maharaja kontol lelaki. Panjangnya
12cm masih kondisi lemas.
“suka dengan kontol besar,” kata Akhbar.
Gwe tak menjawab, gwe menghampiri Akhbar
dan berlutut dihadapannya dan mulai menjilat
kepala kontol Akhbar yang merah merona.
Akhbar mendesah saat gwe mulai memuluti
kontolnya dan perlahan kontol itu mulai
memanjang. Khalif lalu menghampiri kami dan
dia berdiri di samping Akhbar dan mulai
memberikan kontolnya untuk gwe hisap.
Bergantian gwe memuluti kontol Akhbar dan
Khalif. Saat nganceng, kontol mereka
sepanjang 20cm dengan diameter yang
proporsional.
Khalif dan Akhbar mendesah terangsang,
sementara gw terus mengisap dan menjilati
kepala kontol arab itu secara bergantian. Saat
gwe mengisap kontol Khalif maka kontol
Akhbar gwe kocok. Begitu pula sebaliknya.
Akhirnya mereka mencapai puncak bersamaan.
Gwe menyatukan kedua kontol itu saat Khalif
dan Akhbar mengeluarkan cairan
kejantanannya. Nggak semuanya berhasil gwe
telen, sisanya mengalir di pipi gwe.
Kita lalu beristirahat sebentar. Khalif dan
Akhbar tiduran di ranjang untuk
mengembalikan tenaga mereka. 10 menit
kemudian, Khalif menarik gwe ke ranjang dan
menyuruh gwe untuk menduduki kontolnya yang
udah nganceng lagi. Gwe sempet ngeri melihat
kontol yang akan mengentot gwe. Selama ini
belom ada kontol sebesar itu yang pernah
menerobos lobang pantat gwe. Kontol para
tentara dan brimob yang biasa ngentotin gwe
nggak ada yang menyamai kontol Khalif.
Gwe lalu mengoleskan baby oil yang selalu gwe
bawa kemana mana kesekujur kontol Khalif.
Lalu gwe mulai mengambil posisi mengangkang
dan perlahan mulai memasukan kontol itu ke
pantat gwe. Buseeettt!! Pantat gwe serasa mau
robek saat kepala kontol Khalif berhasil masuk.
Dengan pelangwe menuruni kontol itu dan saat
mulai masuk gwe mulai turun naik diatas kontol
Khalif. Sementara Akhbar mengocok kontolnya
di ranjang sebelah memperhatikan kita. Gwe
meremas remas dada bidang Khalif yang
berbulu. Khalif meracau nikmat mengentot
pantat gwe. Sementara di sebelah Akhbar
mulai melulurkan baby oil ke kontolnya.
“gantian sekarang,” kata Akhbar
Khalid menyuruh gwe pindah dan lalu Akhbar
menuruh gwe terlentang di ranjangnya dan
mengangkat kedua kaki gwe. Kontol Akhbar
masuk dengan gampang karena lobang pantat
gwe udah terbuka dan terbiasa dari sodokan
kontol Khalif sebelumnya.
Akhbar dan Khalif bergantian menyodomi gwe.
Mulai dari gwe terlentang, terlungkup,
nungging, kedua kontol arab itu bergantian
keluar masuk lobang pantat gwe. Sampe
akhirnya gwe terlungkup menindih Khalif yang
terlentang dan Akhbar di atas gwe dan kontol
mereka bergantian menyodomi pantat gwe.
Tadinya mereka mau memasukan kontol
mereka bersamaan, tapi gwe tolak. Gileee! Bisa
robek pantat gwe disodok 2 kontol super itu.
Akhirnya klimax mereka tercapai dan secara
bergantian, Khalif dan Akhbar memuntahkan
pejunya di dalam lobang pantat gwe.
Setelah puas, Akhbar memutuskan untuk
pulang tapi Khalif tetap tinggal dan semalaman
kontol Khalif bergantian keluar masuk mulut
dan pantat gwe. Diantara keduanya, gwe
memang lebih menyukai Khalif. Selain wajahnya
yang lebih tampan dan macho. Bulu dada Khalif
lebih banyak dari Akhbar dan sodokan Khalif
lebih terasa nikmat di pantat gwe. Ternyata,
waktu di negaranya, Khalif suka menyodomi
remaja remaja disana sehingga dia jadih
terbiasa menyodomi lobang pantat.
Hubungan gwe dengan Khalif tidak berhenti
disitu saja. Kita tetap keep in touch dan saat
Khalif ke Jakarta, yang selalu dia pergi
sendiri, gwe selalu mampir ke hotelnya untuk
menikmati kontolnya dan berbaring nyaman di
kasur bulu dadanya.