Bentuk Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum [SPBU] yang lazimnya dikenal sebagai pompa bensin sudah banyak berubah. Kemungkinan standarnya yang berubah, karena ketika cerita ini ditulis umumnya SPBU memanfaatkan lahan yang luas dan menyediakan fasilitas restoran atau toko barang pernak pernik.Di samping itu beberapa pompa bensin juga mulai selektif memilih petugasnya.Ada yang mempekerjakan perempuan, ada yang memberi seragam dengan warna menarik,ada juga yang mempekerjakan cowok-cowok bersih – tidak jarang juga mempekerjakan cowok-cowok ganteng [Ha..Ha..Ha..]!

Benny adalah petugas SPBU atau pompa bensin. Di zaman susah sekarang ini Benny beruntung dapat kerja,walaupun hanya jadi petugas pompa bensin. Meski demikian, posisi Benny cepat naik menjadi semacam supervisor di pompa bensin itu. Naiknya posisi Benny ke posisi penting tidak lepas dari keterampilannya ber-gaul dan mengembangkan pertemanannya dengan aparat keamanan dan para preman. Hal ini dianggap penting oleh pemilik pompa bensin,agar pompa bensin itu aman,tak diganggu dan dipalak [diperas] oleh aparat keamanan dan preman yang banyak berkeliaran di sekitar lokasi itu.

Benny bukan anak badung [bengal, nakal], dia anak baik-baik,hanya saja Benny punya karisma,aura,dan juga bakat untuk diterima kaum marjinal dan kriminal. Di sisi lain sejarah hidup Benny turut mengantarkan Benny jadi seperti sekarang ini. Benny adalah anak desa yang dijadikan anak oleh seorang perwira militer. Meski pun ayah angkat atau paman angkatnya itu mencukupi kebutuhan Benny, tetapi Benny diperlakukan terlalu keras,kejam dan sadis oleh ayah angkatnya. Rupanya disiplin mati itu membuat Benny menjadi seorang yang disiplin tapi juga membuat dia menjadi berandal jika ada kesempatan.Apalagi ayah angkat Benny kemudian meninggal dunia sebelum Benny mempunyai kehidupan yang mapan.Untung saja Benny masih berhasil menyelesaikan sekolah di Sekolah Menehgah Kejuruan [SMK] Jurusan Otomotif.

Benny adalah pemuda tampan. Berkat perlakuan keras ayah-angkatnya yang memaksa Benny melakukan latihan fisik dan latihan beban intens dan yang tak lupa didisiplin dan disempurnakan dengan lecutan cemeti,tamparan dan tonjokan maka tubuh Benny dalam usianya yang ke delapan-belas itu sudah “jadi” : atletis, ketat,dan berotot indah..Aku kenal Benny karena dia dan ayah-angkatnya sering latihan karate bareng aku di dojo yang sama.Karena itu aku jadi tahu perlakuan keras ayah-angkat Benny.Aku bahkan pernah melihat sendiri bagaimana ayah-angkatnya menghajar Benny di rumahnya mau pun di dojo – dengan alasan hal-hal yang sepele. Dari sikap dan cara ayah-angkat Benny yang suka menghajar tubuh Benny, aku punya kesan bahwa ada sesuatu yang “tidak beres” dalam diri ayah-angkatnya itu [something wrong].Apalagi ayah-angkat Benny tidak menikah sampai saat meninggalnya. Padahal ayah-angkat Benny adalah seorang lelaki tampan dan berkepribadian memikat! Semasa hidupnya,karir militer ayah angkat Benny cukup baik [sebagai staf, bukan sebagai komando] dan terus meningkat meskipun dia tidak beristeri. Jadi, prestasi ayah angkat Benny dalam tugas juga menonjol dan pastilah dia pandai menutupi rahasia tentang sikap dan tindakan-nya pada Benny!

Setelah ayah angkat Benny meninggal,kebiasaan baik berlatih fisik dan beban intens itu masih saja berlanjut. Meski sudah tidak ada lagi yang menghadiahi Benny dengan lecutan CEPRETT! CEPRETT!,tamparan PLAKK!PLAKK! dan tonjokan di tubuhnya BUKK! BUKK! [Ha..Ha..Ha..].

Sementara itu, Reynald adalah anak tunggal keluarga diplomat. Rey [panggilan Reynald] memilih kuliah di negaranya. Tidak ikut orang-tuanya penempatan di luar negeri.Setelah tamat kuliah, Rey juga memilih kerja di negaranya.Orang-tua Rey adalah sahabat dekatku, sebab itu waktu mereka penempatan lagi di luar negeri aku dititipi “menjaga” Rey.Itulah sebabnya aku dekat dengan Rey dan Rey sering konsultasi tentang hidup dan kehidupan padaku. Semula Rey tidak kenal dengan Benny,sampai suatu kali terjadilah peristiwa seperti yang diceritakan Rey kepadaku. Berikut ini adalah cerita Rey.

CERITA REY

1. Curhat pada Bang Julio

Hanya satu orang di dunia yang tahu bahwa aku gay – yaitu Bang Julio [Yulio?]. Aku percaya Bang Julio dan aku yakin Bang Julio tidak “bocor mulut”.Karena itu aku selalu cerita dan curhat tentang apa saja yang aku ingin ceritakan, apakah tentang pekerjaan, pergaulan, pertemanan,percintaan, sakit-sehat dan masalah lainnya.Curhat pada Bang Julio sangat menolong meringankan beban masalah dan beban pikiranku.

Suatu hari aku mengisi bensin mobilku.Aku jarang sekali mengisi bensin sendiri. Biasanya supirku yang melakukan.Tapi hari libur itu aku ada acara dan “save is save” – aku menambah bensin – siapa tahu hari libur itu aku sekalian ingin jalan keluar kota. Tapi di pompa bensin, pagi itu aku terpana pada seorang petugas pompa bensin yang melayani aku.Cowok itu bukan hanya ramah dan sopan,tapi juga simpatik, berwajah tampan dan bertubuh atletis – kombinasi penampilan cowok yang jadi favoritku. Tidak heran jika berahiku jadi naik ke otak, jantungku serasa berdebar-debar dan aliran darahku seperti terdengar berdesir-desir di telingaku.Bahkan ketika petugas itu mengisi mobilku dengan bensin,maka kontol-ku jadi ngaceng,tegang,mengeras! Akibat aku berdiri dekat-dekat dengan cowok hebat itu! Aku sempat melirik nama: “Benny” tersulam di baju seragam atau baju kerja dari pompa bensin sialan itu [werkpak]!Oleh karena itu,meskipun aku bukan orang yang berkepribadian ramah,tapi aku paksakan untuk berbasa-basi dengan Bang Benny yang ganteng itu.Bang Benny menanggapi sapanku dengan ramah. Waktu membayar,aku sengaja melebihkan uang pembayaran sambil berkata :

“Lebihnya buat abang aja”,tanpa malu-malu aku memanggilnya “abang”. [Ha..Ha.. Ha..! Dasar gombal !] dan dengan ramah Bang Benny menjawab :

“Terima kasih,Mas”, dan dalam hati aku berkata:”Wah dia memanggil aku ‘Mas’ “. Matakuku berbinar-binar.

Sejak kejadian itu aku jadi sering mengisi bensin sendiri di pompa bensin sialan itu.Kalau aku sedang “nasib baik”,aku bisa jumpa dengan Bang Benny.Tapi kalau sedang tidak “hokkie” maka Bang Benny sedang tidak bertugas. Sehingga niatku mau bertemu dan menikmati “keindahan” Bang Benny tidak terwujud dan aku jadi amat kecewa. Bahkan aku jadi sering “dibakar rasa cemburu”,kalau aku melihat ada cewek atau cowok berbicara agak lama dengan Bang Benny waktu mengisi bensin mobilnya.Sebab,aku merasa Bang Benny sudah jadi milikku.Padahal kami berdua tidak ada hubungan apa-apa!Sejak aku jumpa Bang Benny, maka setiap aku onani,fantasi main cabul dengan Bang Benny jadi andalan membangkitkan berahiku dan untuk menambah-nambah rasa nikmatku melancap[merancap] atau beronani [Ha..Ha..Ha…].

Suatu Sabtu sore aku membawa lagi mobilku ke pompa bensin itu untuk mengisi bahan bakar.Aku tak melihat Bang Benny sedang tugas.Tapi tanpa sengaja aku melayangkan pandanganku ke sudut lain dari pompa bensin itu bagian belakang di sekitar toilet.Disitu aku lihat seorang laki-laki bertelanjang dada.Sebagai cowok homosex maka langsung saja mataku jadi ijo [hijau] melihat ada lelaki telanjang dada. [Ha..Ha..Ha..]. Waktu aku cermati, ternyata laki-laki itu adalah Bang Benny. Maka aku pun memundurkan mobilku ke belakang untuk keluar dari antrean dan parkir di sudut lain.Aku turun dan pura-pura mau ke toilet.Bang Benny masih ber -diri di situ,entah sedang melakukan apa.Aku jalan mendekat dan menyapanya:

“Lagi ngapain Bang ?”, rupanya Bang Benny masih kenal aku,karena sejak aku jumpa dia aku sudah sempat mengajaknya ngobrol waktu aku mengisi bensin, mungkin dua atau tiga kali dan aku selalu memberinya tip besar. Bang Benny menjawab dengan ramah :

“Mau mandi, Mas”, agaknya Bang Benny mandi di lokasi pompa bensin itu. Aku pun berusaha keras untuk memperpanjang kontak dan interaksiku dengan dia. Maka aku melanjutkan pembicaraan :

“Nginep disini ya, Bang?”.

Bang Benny menjelaskan bahwa hari itu dia jaga di pompa bensin sampai malam, karena itu dia mandi sore di situ. Pompa bensin itu buka 24 jam dan selalu ada petugas yang jaga [piket]. Sambil ngobrol,diam-diam aku pun mencuri pandang keindahan tubuh abangku yang tercinta dan bertelanjang dada itu [ta’i!]. Tubuh Bang Benny sungguh indah.Otot-dadanya amat menonjol kedepan,belahan dada -nya bagaikan suatu “lembah” atau “lekukan” [crest] yang ‘dalam’ di antara kedua bukit dadanya. Puting susunya ketat, tegang, dan melenting. Ingin rasanya aku menjilat mengelus,meremas dan menggutil-gutil puting-susu,tetek,nenen atau nipple abangku Itu[ta’i!].Perut Bang Benny rata, tetapi bertonjolan otot-otot yang membentuk pola six-packs [Agh!Indahnya!].Pinggangnya ramping dan kencang. Kedua lengannya besar dan kekar dan waktu Bang Benny mengangkat lengan-nya ke atas untuk melakukan sesuatu aku menampak secercah bulu keteknya yang lebat di bawah lengannya yang kekar, tapi enak dilihat [dan mungkin nikmat juga kalau dijilat?]. Seakan-akan jadi tanda dan jadi bukti kedewasaan dan kelaki -lakian Bang Benny yang sempurna.

Karena Bang Benny masih mau melayani obrolanku,maka aku berusaha untuk memperlama kontak dan obrolanku dengan Bang Benny yang perkasa itu! Aku pun pura-pura tanya dimana tempat istirahat petugas yang piket. Petugas piket ada dua orang dan kalau tidak banyak pembeli, mereka bisa gantian tidur.

Bang Benny berbaik hati menunjukkan sebuah kamar di dekat kami berdiri. Aku melongok ke dalam kamar sialan itu – mungkin ukurannya hanya 3X4 meter saja. Ada sebuah tempat tidur di situ. Waktu kami berdua sudah berada di kamar itu – aku menyelipkan uang Rp 100.000,- di saku celana jeans Bang Benny.Dia sudah tahu bahwa aku memberinya tip,sebab aku sudah beberapa kali melakukan yang seperti itu – karena itu Bang Benny menyampaikan terima kasih.

Di dalam kamar sialan itu nafsu berahiku menggelagak naik ke otak, darahku seakan mendidih dibakar nafsu berahi yang membara dan menyala-nyala! Aku nekat melingkarkan tanganku di pinggang Bang Benny.Tubuhnya yang telanjang -dada itu terasa nikmat bersentuhan dengan lenganku yang ditutupi baju lengan pendek Dia bergidik mungkin karena geli dan kaget.Pintu kamar sialan itu dalam jangkauan tanganku,karena itu pelan-pelan pintu aku tutup dengan tangan kiriku dan aku kunci dengan mendorong selorokan penguncinya.

Aku memindahkan posisiku di depan tubuh Bang Benny yang telanjang dada itu dan tubuhku aku rapatkan,wajahku aku benamkan di samping kanan kepalanya. Bang Benny membiarkan saja aku berbuat begitu. Apakah mungkin berkat uang Rp 100.000,- yang sering aku selipkan di saku celananya atau mungkin Bang Benny adalah seorang yang penuh pengertian atau dia juga gay atau bi-sex?

Aku mencoba mengendus-ngendus untuk mengetahui bau badan atau bau ketek Bang Benny tapi tak tercium apa-apa olehku – padahal bulu-ketek Bang Benny lumayan lebat!Kedua lenganku aku selipkan melalui sela-lengannya di kiri dan kanan, lalu tubuh depanku aku rapatkan ke tubuh depan Bang Benny yang ber-telanjang dada! Agh! Nikmat Aku bahagiaa sekali! Pelan-pelan aku berjongkok, lalu melepaskan kait-kait celana jeans abangku itu,membuka risletingnya,dan memplorotkan celana serta kancutnya,sampai terjela-jela di bagian pergelangan kakinya!Akupun mulai menampak kontolnya yang sungguh besar dan disunat ketat.Jembutnya tebal, hitam,tumbuh rapat-rapat dan luass! Agh! Indah ! Untuk memudahkan manuverku aku berlutut dan aku mulai menjilat-jilat dan mengisap kontol abangku itu bagai seekor kucing yang sedang menjilati anaknya yang baru lahir..

Kontol Bang Benny tampak makin menegang, mengacung, hampir menempel ke hamparan jembutnya.Akupun menjilat,menjilat dan menjilat dan samar-samar aku dengar suara desis dari mulut Bang Benny,akibat rasa nikmat di kontolnya:Hhsst! Hhsst!Hhsst! Lalu disusul suara mengeluh atau melenguh seperti kerbau sedang memamah biak : MMMPH! MMMPH! MMMPH! Sementara itu, ketika aku sedang asyik dan sibuk menjilat-jilat dan mengisap kontolnya, aku rasakan tubuh Bang Benny seperti mengejang-menggelinjang dan pinggulnya didorong-dorongkan ke arah mulutku, disusul keluarnya pejuhnya: CROOOOOOOT! CROOOOOOOOT! CROOOOOOOT! dari lobang-kencing Bang Benny. Pejuh Bang Benny muncrat dan berceceran di lantai,sebagian menceceri bajuku,bibirku dan mulutku. Semua pejuh Bang Benny yang masuk mulutku dan bisa kutelan,aku telan!Terasa agak lender,agak manis dan bau pejuh! Tapi aku bangga dan bahagiaaaa sekali!

EPILOGUE

Menurut Rey, sejak kejadian itu, dia sering “menengok” Bang Benny di pompa bensin. Hubungan mereka berdua berkembang menjadi cinta antara dua orang yang sejenis! Di kamar piket sialan itu mereka melakukan segala sesuatu yang mereka sukai paling tidak tiga kali seminggu !