Tepat di sebelah rumahku terdapat sebuah toko bangunan yang selalu men-supply debu ke rumahku. Bayangkan saja, setiap hari pasti akan ada kiriman debu. Tak heran sebab toko itu menjual pasir, batu bata, dan semua bahan bangunan yang kotor. Satu-satunya hal yang baik adalah banyaknya para kekerja toko bangunan yang sering duduk di depan rumah ortu-ku. Seringkali saya berpura-pura berdiri di depan pintu hanya untuk melihat tubuh telanjang mereka yang berkilauan saat mereka sibuk menaikkan atau menurunkan barang-barang bangunan ke truk. Kontolku sering ngaceng berat! Dari antara semua pekerja hanya ada satu yang menarik perhatianku.

Tampangnya agak lebih tua dari yang lain. Tua di sini bukan berarti tua renta dan keriputan, melainkan dewasa. Mungkin umurnya sekitar tigapuluhan, terlihat macho sekali meskipun tubuhnya tidak kekar berotot. Yang paling kusuka darinya adalah tatapan tajamnya dan juga brewok tipis berumur 1 atau 2hari. Ah, seksi sekali!!!! Sungguh mengobarkan nafsu birahiku! Biasanya dia memakai kemeja usangnya dan topi (model topi sekolah) Di sekeliling topinya sering diselipkan saputangan, agak seperti topi tentara Jepang. Abang itulah sasaran utamaku!😉

Pernah beberapa kali saya berpas-pasan dengannya saat hendak membeli sesuatu di warung. Dia sering kali menatapku tajam-tajam, seakan-akan ingin berkata, ‘Awas loe. N’tar gue ngentotinS pantat loe!’ Tapi kami tak pernah saling bertukar sapa karena kami tak saling mengenal. Saya terus berusaha mencari kesempatan untuk mendekatinya. Akhirnya kesempatan itu pun datang!

Ortu-ku sedang pergi, hanya ada saya saja di rumah. Kesempatan emas untuk ‘menembak’ abang pekerja favoritku. Kebetulan dia juga sedang sendirian, duduk tepat di depan rumahku. Benar-benar kesempatan. Saya pun membuka pintu depan dan berpura-pura terkejut melihatnya. Untuk pertama kalinya, saya menyapanya. “Wah, sedang istirahat, yah?” Abang itu tidak berkata apa-apa, sepertinya malah agak terganggu karena baru saja kusapa. Tapi saya bersabar dan mencoba lagi. “Abang pasti haus. Mau minum gak? Kebetulan di dalam ada air dingin. Kalau Abang mau, Abang boleh masuk kok. Kebetulan saya sedang sendirian dan butuh teman bicara.” Mendengar bahwa saya sedang sendirian, matanya berbinar-binar. Namun rupanya dia memang tak suka berbicara sebba dia hanya mengeluarkan dehaman pendek yang berarti ‘ya’.

Saya senang sekali sampai ingin melompat. Kupersilahkan abang ganteng itu untuk masuk. “Sebaiknya kita ke kamarku saja. Lebih terasa enak daripada di ruang tamu,” alasanku. Abang itu menurut saja, matanya menatap ke setiap sudut rumahku. Sesampainya di dalam kamarku, matanya langsung tertuju pada layar komputerku yang masih menyala. Memang sengaja kutinggalkan menyala agar dia bisa melihat koleksi foto-foto pria telanjangku. Saya berpura-pura kaget dan salah tingkah, agar dia tak curiga. “Aduh, maafkan saya. Saya cuma iseng kok melihat gambar gituan. Biasa, penasaran.”

Tapi tiba-tiba Abang itu menutup pintu dan menguncinya. Tentu saja saya keheranan. Belum sempat saya bertanya, abang itu membalikkan tubuhnya dan langsung merobek kemejanya sendiri. Kancing-kancing kemejanya pun putus dan jatuh berserakan di lantai. Dadanya yang agak bidang terekspos, untuk kepuasan mata homoseksualku. Selanjutnya kemeja itu dia lepas dan banting ke lantai. Saya kesulitan menelan air liurku, terangsang melihat tubuhnya yang indah. Memang dia tidak sekekar atlit, namun masih punya otot. Yang paling kugilai dari tubuhnya adalah sepasang putingnya yang keras dan berwarna coklat. Dan lagipula, dada bidangnya itu agak ditumbuhi bulu-bulu halus! Saya paling suka pria berdada berbulu. Aaaahhh… jantan sekali. Sangat macho dan maskulin! Tak puas hanya dengan melepas kemejanya dan mempertontonkan dadanya, abang itu meraih celana panjangnya yang berdebu dan mulai melepasnya. SROT! Celana itu terjatuh ke lantai. Dengan sensual, abang itu menarik-narik karet celana dalamnya. Beberapa detik kemudian, celana dalam itu juga dilepaskannya. Mataku terpaku pada kontolnya yang mulai hidup. Kontol bersunat itu mulai bangun dan menatapku balik. Lubang kontolnya serasa menantangku. Kini, berdiri bertelanjang bulat, abang itu mengelus-ngelus dadanya sendiri.

Bagai tersihir, saya pun segera melepaskan pakaianku. Mudah bagiku untuk melakukannya sebab saya hanya memakai kaus dan celana pendek saja (tanpa celana dalam). Kontolku yang dari tadi ngaceng melompat keluar dan memperkenalkan dirinya. Abang itu nampaknya puas melihat tubuh telanjangku. Tanpa bicara, dia langsung memelukku dan mulai menciumiku. Tingkah lakunya agak kasar dan sama sekali tidak romantis, tapi saya suka. Saya suka menyerahkan diriku padanya. Memang saya sudah bukan perjaka lagi; saya pernah dingentot cowok lain. Namun, pantatku masih perjaka dari kontolnya😉 “…HHHOOH… AAAHHHH… HHHOHHHH…” Kudengar napasnya menderu-deru di telingaku ketika dia sibuk menciumi dan menjilati mukaku. Kontolnya mulai melelehkan precum dan mengenai tubuh bagian bawahku. Kontol kami saling beradu saat kami saling mencium dengan liar. AAahah…. belum pernah saya bertemu dengan pria yang bernafsu sekali seperti abang itu.

SLURP! SLURP! Bunyi suara mulutnya saat dia menyedot-nyedot lidahku. Kemudian, di antara deru napasnya, dia pun berbicara, “…OOHHHH… gue doyan cowok Cina…. HHHOOHHH… putih, halus, mulus…. HHHOOSSHHH… kayak loe….. AAAHHH… gue ngaceng berat nih…. AAAHHH… mau ngentotin loe…. HHHOOOHHH….” Tangannya yang kuat meremas-remas dada, perut, dan putingku. Dia benar-benar sangat menikmati tubuhku, dan saya pun lega dia suka. Tak lupa kuremas balik dadanya seraya memegang-megang putingnya. Aaahhh… keras sekali. Ingin rasanya kujilati puting itu. “…AAAAHHHH… OOOOHHHH…. UUUUHHH…” erangnya.

“…hhhohhh…. aaaahhh…” desahku saat kubiarkan dia memelukku lagi. Lalu kini gantian saya yang berbicara. “…ooohhh… yaaaa…. gue pengen dingentot…. aaahhh… gue pengen berhomoseks ama abang…. oooohhhh…. tolong ngentotin gue, bang…. hhhooossshhh…. kontol abang…. aaahhhh… gede sekali….. gue suka kontol…. aaaahhhh….” Sengaja kujilati leher dan telinganya. Reaksinya, sekujur tubuhnya seakan-akan tersengat listrik. “…ooohhh… gue suka badan abang… oooohhh… gue mau menyepong kontol abang… aaahhh… boleh kan?”

Tanpa bicara, abang itu mendorong tubuhku turun. Dengan senang hati, saya berlutut dan menyembah kontolnya. Bagiku kontolnya sangat indah sekali. Kepalanya besar dan mengkilat bagaikan buah ceri. Batangnya yang panjang nampak kokoh, menyatu dengan tubuhnya. Sedangkan kedua bola pelernya menggantung-gantung dengan sensual. Ah, saya tidak tahan lagi. Saya harus mencicipi kontolnya! Tanpa takut ataupun ragu, kupegangi bola pelernya dan mulai kuperas-peras seraya kutarik-tarik. Saya bayangkan bahwa bola pelernya seperti pegangan pompa air. Jika saya menarik bolanya, maka kontolnya akan menyemburkan pejuh segar untukku.

Abang itu mendesah-desah keenakkan saat kuremas-remas bola pelernya. Kepalanya ditengadahkan dan matanya terpejam rapat-rapat, menikmati sentuhan tanganku yang hangat. Berhubung kepala kontolnya nampak sangat menggoda dan indah, sebelum kusedot, saya mencium-cium kepala kontol itu terlebih dahulu. Baru kemudian, kutelan kontolnya, seluruhnya. “AAAAMMMM…” SLURP! SLURP! Rasa precumnya langsung menyerang lidahku, asin-asin nikmat. Saya berusaha menjilat-jilati bagian bawah kepala kontolnya dan memastikan bahwa dia mengerang lagi. Kemudian, kumain-mainkan lubang kontolnya. Kontolnya terangsang dan lebih banyak precum dikeluarkan. “…aaahhh…. ooohhh…. yyyeesss…. sedot terus…. aaahhh…. sedot kontol gue…. aahhh.,…. hhhoosssshhhh…. sedot terus….. aaahhh… jangan stop…. aaaahhh….. loe hebat banget…. aaaahhhh….”

Menyedot kontol memang bukan masalah sebab saya sudah sering menyedot kontol cowok. Saya memang sangat memuja kontol. Bahkan di laciku ada sebuah dildo (kontol palsu) yang sering kucium sebelum saya tidur. Dari semua kontol yang pernah kusedot, kontol abang itulah yang paling enak! Kepalanya pun terasa licin dan enak di lidah. Apalagi dia baik sekali, menghadiahkanku precum banyak sekali. Saya sampai kewalahan menyedot precumnya. Enak banget! “MMMPPHH… MMPPPHHH…. MMMMM….” Saya hanya mampu bersuara seperti itu, dengan kontol abang itu menyumbat mulutku. SLURP! SLURP!

Abang itu mengerang semakin keras dan dia mulai ingin mengendalikan permainan. Kini dialah yang pro-aktif. Kontolnya disodok-sodokkan ke dalam mulutku seperti gerakan orang ngentot. Namun saya bersikeras untuk menyedotnya, maka pertarungan pun terjadi. Mulutku sering kali bertabrakkan dengan kontolnya. Dia ingin mengentot mulutku dan saya ingin menyedot kontolnya. Sampai akhirnya dia pun tiba pada puncak kenikmatannya. Dengan melenguh panjang bak kerbau, kontol abang itu mengembang dan mulai menembak-nembakkan pejuh ke dalam mulutku. CCRROOTT!!! CCRROOTT!!! CCCRROOTT!!! CCCRROOTTT!!! Langsung saja kusedot dan kutelan semua pejuhnya itu. Mmmm….. sungguh nikmat! Pejuh terlezat yang pernah kutelan. Rasa asin, pahit, dan manisnya bercampur dan terasa pas di lidah. CCRROTT!! CCROOTT!!!! Sementara itu, abang itu terus saja mengerang-ngerang sampai pejuhnya habis terkuras di dalam mulutku. “AAARRGGHH!!! UUUGGHHH!!! ARRRGGHH!!!! OOOOHHH!!!!! AAARRRGGGHHH!!!!” Tubuhnya terkulai lemas, namun masih sanggup berdiri. Setelah kontolnya bersih kujilati, baru kulepaskan kontolnya dari mulutku. Setetes pejuhnya menempel di bibirku namun langsung kujilat habis. SLURP!

“Abang masih kuat? Sebab gue masih belum dingentot dan gue kepengen banget dingentot. Ayolah, bang. Ngentot yach?” mohonku sambil menunggingkan pantatku dan memain-mainkan lubang anusku dengan jariku. Saya merasa sangat rendah seperti pelacur, namun saya tak dapat menyangkal hasrat birahi homoseksualku untuk abang itu. Pokoknya abang itu harus menancapkan kontolnya di anusku! Abang itu hanya tersenyum mesum melihat kelakuanku. Lalu tanpa bicara, dia langsung menarik tubuhku.

Sebelumnya saya sedang menungging dengan pantatku menghadap wajahnya. Abang itu menarikku ke arahnya, tepat ke kontolnya! Kontol abang itu besar sekali, tapi saya tidak takut. Malah saya mengharapkan kontol itu untuk merusak anusku. Saya ingin disodomi! Saya ingin dingentot! Saya ingin berhomoseks! Ngentotin saya! Dan abang itu pun mengentotin pantatku. Sambil memelukku dari belakang, abang itu menusuk-nusuk lubang anusku dengan kontolnya. Butuh beberapa saat sampai kontolnya akhirnya berhasil masuk dan membenamkan dirinya. PLOP! Aaahhh…. hangat sekali kontolnya. Abang itu meraba-raba tubuh bagian depanku, terutama dada dan putingku. Tak lupa juga dia mengerjain kontolku yang sudah belepotan precum. Kami terbakar nafsu dan kami akan segera terbakar hangus.

“AARRRGGGHHH!!!” erangku saat dia mulai menggenjot pantatnya. “…AARRGGGHH!! AAAAHHHH!!!… sakit sekali, bang!… AAARRRGGHHH…!!!! Ayo, terus!… AARRGGGHHH!!!… ngentot yang keras…. AAAHHHHH…. OOOOHHHHHH!!!!” Meksipun sakit, kupaksakan diriku karena saya memang butuh kontol. “AAARRGGGHH!!! UUGGHH!!! OOOHHH!!!!” Eranganku semakin menjadi-jadi saat abang itu semakin membabi-buta dengan ngentotnya. Lubang anusku dipaksa untuk mengakomodasi kontolnya yang gemuk. belum pernah ada kontol sebesar itu masuk menginvasi anusku. “AAARRGGGHHH!!!” erangku lagi.

“ooohhh…. aaahh… hhooohh…. oooohhh… hhhooossshhh….” napas abang itu menderu-deru seperti banteng ngamuk. Matanya tertuju pada punggungku, serius seklai. Wajahnya sedikit meringis menahan rasa sakit akibat kontolnya harus dipaksakan masuk ke lubang sesempit anusku. Namun dia juga puas dan memaksakan dirinya. Kontolnya terus menerus memompa lubangku bagaikan kerja mesin yang tiada henti. Seiring dengan sodokannya dia selalu menyuarakan erangannya. “AARGGH!!! AARRGGHH!! AARGHH!! AARRGGGHH!!!” Cairan precum semakin banyak dikeluarkan kontolnya, melumasi jalan masuk ke anusku. Kontolnya kurasakan berkedut-kedut dengan gairah. “…aaahhhh… ooohh… BANGSAT!… aahhh… ketat banget pantat loe…. aaahhhh…” Memegangi pundakku, abang itu menyodomiku makin keras. Semakin lama, tubuh kami saling terguncang akibat sodokan kontolnya yang maha dahsyat. “…AAAAHHHH…”

Syaa terpaksa harus mengocok kontolku sendiri karena abang itu telah berhenti mengerjain kontolku. Tanpa ampun, saya remas dan saya kocok kontolku, memaksaku untuk ngecret secepat mungkin. Nafsu birahiku semakin tinggi dan terlihat apd akontolku yang semakin ngaceng. Rasanya nyaris sakit, sebab kontolku butuh pelepasan dengan ngecret. “…AARRRGGGHHH!!!!” erangku. “…ngentot terus… AAAHHH…. OOOOHHHH….. ngentot!…. aaaahhh…. negntot terus!…. oooohhh….!!!!” Kontolku mulai berkedut-kedut, pertanda orgasmeku mendekat. Demikian pula dengan kontol abang itu, juga mulai berkedut-kedut. Kami akan ngecret!

“AARRGGHH!!! BANGSAT! Gue bakal ngecret! AAARRRGGHHH!!! Terima pejuh gue!!!! AAARRRGGGHHHH!!!!!” Dengan itu, abang itu pun mendorong kontolnya sedalam mugkin dan terjepit di dalam tubuhku. “AAARRGGHH!!!!” KOntolnya akhirnya meledak, memuncratkan pejuh berliter-liter. CCRROOTT!!! CCRROOTT!!! CCCRROOTT!!! Sementara itu, dia terus-menerus mengerang-ngerang dan menggeliat-geliat, mirip orang kesakitan. “AARRGGGH!!! UUUGGHHH!!! OOOHHH!!!! AARRGGGHHH!!!! UUUGGHHH!!!!” Sungguh pria yang sangat jantan, pejuhnya terasa sangat penuh sampai-sampai saya merasa seakan-akan pejuhnya akan keluar lewat hidungku. Rasanya pun hangat; sekujur tubuhku menghangat dan rasanya sungguh nyaman.

Lalu tibalah giliranku. “AAARGGGHHH!!!!” Tubuhku mengejang-ngejang seperti kuda liar lalu kontolku memuntahkan isinya. CCRROOTT!!! CCCRROOTT!!! CCCRROOOTT!!! Pejuhku muncrat banyak sekali, membasahi tubuhku dan juga lantai. “AAARRGGHH!!! UUUGGHHH!!! OOOHHH!!!! AAARRGGHHH!!!!” Orgasme menyiksa tubuhku dan saya harus menggeliat-geliat, menahan kenikmatan. Abang itu lengah dan kontolnya pun terlepas. PLOP! Seiring dengan itu, banjir pejuh langsung mengalir dari luabng anusku yang menganga. Bayangkan saja tampangku pada saat itu. Pejuh keluar dari kontolku dan lubang pantatku. Lantai kamarku kotor sekali. Saya lalu terjatuh ke lantai, lemas sekali. Tubuhku bermandikan keringat dan pejuh. Sementara itu abang ganteng itu menundukkan badannya dan menciumiku. Tangannya menepuk pantatku. Kudengar dia bersiul, “Wah, lobang pantat loe menganga terbuka, kayak angka nol.” Dia pun tertawa dengan leluconnya sendiri.

“Abang suka ama lobang pantat gue?” tanyaku, membalikkan tubuhku dan memandangnya. Astaga, saya berharap saya dapat menjadi kekasihnya. Tubuhnya, wajahnya, suaranya, dan kontolnya, semuanya saya suka. Namun apakah dia akan mencintai seorang cowok Cina seperti diriku? Kontolku kembali berdiri dan berkedut-kedut saat pikiranku melayang membayangkan abang itu dan saya naik ke atas ranjang pelaminan sebagai sepasang pengantin homo.

“Ya, Abang suka banget ama loe. Dan kalo boleh, Abang pengen ngentotin loe lagi,” katanya, menciumi leherku dengan bernafsu.

‘Astaga? Lagi?’ Namun saya senang, akhirnya saya menemukan pria yang bisa mengimbangi nafsu seks-ku. Kami berdua sama-sama suka berhomoseks. Dan kami pun kembali ngentot. AAARRGGGHHH!!! Kurasakan lubang pantaku semakin besar, di-bor oleh kontolnya. Kuharap anusku bisa sembuh dan tidak menganga seperti angka untuk selamanya🙂