(sebelum baca , siapin kopi dulu biar ngak ngantuk )
Siapa yang tak kenal Andre? Si cowok populer di SMU Dwi Warna. Tinggi, ganteng, atletis, ramah, kaya namun tidak sombong. Jabatannya banyak mulai dari Ketua OSIS, Komandan Paskriba, Ketua PMR, sampai Ketua Kelas pun dia pegang. Andre jago segala jenis olah raga yang ada di sekolah. Basket dia bisa, voli juga, sepak bola apalagi, renang top, dan, belum pernah ada yang sanggup mengalahkannya di lapangan tennis. Bila ada acara pertandingan olah raga di sekolah, sudah dapat diprediksikan Andre akan jadi bintang lapangan.

Seluruh manusia di sekolah sangat membanggakannya. Para guru sangat menyayanginya. Nama SMU Dwi Warna harum dengan prestasi olah raga karena kepiawaian Andre.

Kelebihan yang dimilikinya itu membuat kelemahan Andre dalam bidang akademik tertutupi. Guru-guru tak ada yang mempermasalahkan kemampuan Andre yang pas-pasan dalam pelajaran. Meskipun ia kurang menguasai matematika dan fisika, tetap saja Andre bisa duduk di kelas 3 IPA saat ini. Tidak mendidik memang, namun begitulah kenyataan yang dinikmati Andre di sekolah.

Meski suka gonta-ganti cewek di sekolah, Andre tidak pernah mendapatkan julukan playboy. Hampir semua cewek cantik di sekolah sudah pernah dipacari oleh Andre. Tidak satupun cewek mantan pacar Andre yang kecewa atau marah karena diputuskan olehnya. Meskipun keputusan Andre untuk memutuskan cewek itu karena ia punya gandengan baru di sekolah. Menjadi pacar Andre, meski hanya dalam waktu dua minggu saja sudah sangat membahagiakan cewek-cewek itu. Bila Andre bertanding olah raga, maka semua mantan pacar Andre itu akan duduk beramai-ramai di tepi lapangan memberikan dukungan padanya. Bersorak-sorai meriuhkan suasana. Jangan heran kalau di tepi lapangan akan menemukan beberapa cowok yang keki melihat aksi sorak-sorai cewek-cewek itu. Gimana gak keki, cewek yang penuh semangat bersorak-sorai mendukung Andre, saat ini adalah pacar dari cowok yang keki itu.

Menurut informasi yang beredar di kalangan umum, saat ini yang berstatus pacar Andre adalah Cindy. Masih duduk di kelas 1 SMU Dwi Warna dan dua bulan lalu baru saja dinobatkan sebagai cover girl sebuah majalah remaja terkenal. Keesokan hari setelah malamnya dinobatkan sebagai cover girl, Cindy sah menyandang predikat cewek Andre yang ke sekian. Dasar si Andre.

Hari-hari menjelang masa kelulusan hampir tiba. Segala kesibukan kegiatan olah raga dan ekstra kurikuler lainnya dihentikan bagi siswa-siswi yang duduk di kelas 3. Tiada hari tanpa kegiatan belajar di SMU Dwi Warna. Sore hari seusai pulang sekolah, siswa-siswi kelas 3 masih harus tinggal di sekolah untuk mendapatkan bimbingan tambahan dari para guru. Tak ada waktu lagi buat Andre dapat menunjukkan kepopulerannya. Tak ada waktu bagi mantan-mantan cewek Andre untuk bersorak-sorai baginya. Tak ada waktu bagi Cindy untuk bisa memamerkan Andre pada teman-teman modelnya. Andre sibuk dengan pelajarannya. Pusing dengan kenyataan bahwa dia sangat tertinggal pada pelajaran di sekolah. Terutama pelajaran fisika.

“Ndre, kamu harus belajar lebih giat lagi nak,” kata Pak Simangunsong, guru fisika Andre, suatu sore di ruangan guru, seusai bimbingan pelajaran fisika. “Saya perhatikan, dalam dua minggu kegiatan bimbingan ini kemampuan fisika kamu masih jauh dari rata-rata. Kalau begini terus, Bapak kuatir, kamu tidak lulus ujian nanti.”

“Mohon dibantu Pak,” kata Andre pelan.

“Sebetulnya, Bapak sangat ingin membantu kamu. Semua guru yang lain Bapak yakin juga begitu. Tapi sebagaimana kamu pahami, ujian akhir itu dilangsungkan secara nasional. Tidak ada yang bisa membantumu selain dirimu sendiri nak. Karena itu kamu harus lebih giat belajar,” jawab Pak Simangunsong dengan dengan logat bataknya yang kental. Matanya menatap lurus ke wajah bagus Andre.

“Apa yang harus saya lakukan Pak? Saya sudah berusaha belajar sendiri dengan giat. Buku-buku sudah saya baca semua. Tapi susah sekali saya memahami apa yang saya baca Pak,”

“Menurut Bapak, kamu harus lebih banyak belajar. Salah satunya dengan belajar bersama seorang kawan yang bisa membantu kamu memahami pelajaran,”

“Apa bisa begitu Pak?”

“Biasanya belajar bersama lebih efektif. Coba kamu ajak kawan dekat kamu belajar bersama. Kamu kan tahu siapa kawan kamu yang pintar dalam pelajaran fisika,”

Andre sibuk memikirkan siapa kawan dekatnya yang pinter dalam pelajaran fisika. Namun ia tak menemukan, “Saya kurang tahu Pak. Selama ini saya kurang dekat bergaul dengan teman-teman yang kutu buku Pak. Hehehe. Teman-teman dekat saya, ya yang biasa aktif di olah raga Pak,” katanya akhirnya pada Pak Simangunsong sambil nyengir.

“Hmm, begitu ya. Kalau begitu, nanti Bapak carikan kawan yang bisa membantu kamu,” tanggapan Pak Simangunsong dengan tetap penuh kewibawaan.

“Terima kasih Pak,”

Andre meninggalkan Pak Simangunsong dengan gontai. Pusing memikirkan apa yang akan terjadi bila dia tak lulus ujian. Cita-citanya untuk kuliah di Akademi Militer seusai SMU bisa kandas.

Esoknya, seusai bimbingan tambahan, Pak Simangunsong kembali memanggil Andre ke ruangan guru. Pak Simangunsong sedang berbicara dengan seorang murid, cowok, saat Andre tiba. Dari tempatnya berdiri di pintu ruang guru, Andre tidak dapat melihat siapa cowok itu, karena posisi duduknya yang memunggungi Andre.

“Eh, kamu sudah datang Ndre. Silakan duduk,” Pak Simangunsong menyadari kehadiran Andre, cowok ganteng itu dipersilakannya duduk tepat di sebelah cowok yang tadi sedang berbicara dengan Pak Simangunsong. “Ini Calvin, katanya dia pernah sekelas dengan kamu di kelas 1 dulu,” Pak Simangunsong memperkenalkan cowok itu pada Andre.

Andre melirik pada cowok bernama Calvin yang sedang duduk dengan wajah menunduk itu. Meskipun sudah berusaha mengingat masa-masa ketika duduk di kelas 1 dulu, tetap saja Andre tak bisa mengingat apakah pernah berkenalan dengan cowok berkulit putih bersih dengan tubuh ramping namun atletis dan berkaca mata minus yang sedang duduk disampingnya ini. Dalam memorinya tak ada satu data pun tentang Calvin.

“Tentu saja ingat Pak, masak sama teman satu kelas tidak ingat,” jawab Andre berbohong pada gurunya. Mendengar jawaban Andre, perlahan-lahan Calvin mengangkat wajahnya untuk kemudian menatap samping wajah bagus milik Andre yang sedang menghadapkan wajahnya lurus ke arah Pak Simangunsong. Calvin tak percaya kalau Andre ingat padanya. Seingat Calvin, meskipun di kelas 1 dulu ia pernah sekelas dengan Andre, namun tak pernah sekalipun mereka pernah berbicara. Tak ada kegiatan yang pernah mereka lakukan bersama-sama. Andre sibuk dengan aktifitas ekstra kurikulernya, sedangkan Calvin sibuk dengan olimpiade fisikanya.

Calvin tak pernah punya keberanian untuk mendekat apalagi bergaul dengan cowok tampan yang paling populer di sekolah itu. Sejak kelas 1 dulu hingga saat kelulusan hampir tiba, yang berani dilakukan Calvin selama ini hanya mencuri-curi pandang atau menatap Andre dari jauh. Memuaskan tatapannya pada cowok tampan yang entah kenapa sangat dikaguminya itu.

Ketika Pak Simangunsong memanggilnya tadi pagi, dan menyampaikan padanya bahwa ia dimintakan tolong untuk membantu Andre dalam pelajaran fisika, Calvin benar-benar tak dapat mempercayai hal itu. Barulah ketika Andre duduk disampingnya saat ini, Calvin dapat yakin bahwa akhirnya ia dapat berdekatan dengan cowok populer ini.

“Kalau begitu baguslah. Karena kalian sudah saling mengenal, selain itu rumah kalian berdekatan, jadi lebih mudah buat kalian untuk memulai belajar bersama. Silakan kalian tentukan sendiri waktu dan tempat untuk belajar bersama,” kata-kata Pak Simangunsong membuyarkan lamunan Calvin tentang Andre. Pembicaraan usai. Andre dan Calvin berjalan beriringan ke luar dari ruangan guru. Terdiam, kaku karena belum saling mengenal.

Calvin tak bisa tidur malamnya. Padahal jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Diatas ranjangnya yang empuk, ia menatap lurus ke langit-langit kamarnya. Matanya tak mengantuk. Ia masih teringat kecanggungan yang dirasakannya sore tadi saat Andre mengantarnya pulang dengan sepeda motor Tiger 2000 nya. “Peluk pinggang gue erat-erat Vin. Supaya elo gak jatuh. Soalnya gue kalo bawa motor gak bisa gak kenceng,” kata Andre padanya.

Sepanjang jalan menuju tempat tinggalnya di sebuah kompleks perumahan kawasan Bintaro, jantung Calvin bergemuruh kencang. Ia benar-benar grogi duduk sedemikian rapat dengan cowok ganteng bertubuh harum menyegarkan itu. Punggung lebar Andre yang empuk berotot bersentuhan rapat dengan dadanya yang cukup bidang. Telapak tangannya mencengkeram kuat perut Andre yang rata, keras, dan berotot. Sedangkan kontolnya beradu rapat dengan buah pantat Andre yang bulat empuk. Sepanjang jalan Calvin kuatir Andre merasakan perbesaran ukuran kontolnya yang menempel erat di buah pantat itu.

Sesampainya di rumah Calvin, tak ada satu kalimatpun dari Andre yang menyinggung soal perbesaran kontol Calvin. “Kalau bisa belajar bersamanya kita mulai besok, sepulang bimbingan ya Vin,” kata Andre pada Calvin. Setelah Calvin menyetujui, Andre segera melajukan sepeda motornya menuju rumahnya di Pondok Indah. Calvin lega, sepertinya Andre tidak menyadari kekurangajaran kontolnya yang mengeras seenaknya tadi.

Masih diatas tempat tidur, Calvin teringat pada apa yang pernah dikatakan Desi, sepupunya yang pernah sangat dekat dengannya. Desi adalah anak dari kakak mamanya Calvin. Tak ada saudara Mamanya Calvin selain Tante Rini, mamanya Desi. Meskipun Desi lebih tua dua tahun darinya, namun sejak kecil mereka sangat akrab. Mungkin karena mereka berdua sama-sama anak tunggal. Jadi perasaan keduanya seperti kakak adik kandung sangat dekat. Tak ada rahasia yang tak diceritakan Calvin pada Desi. Demikian pula Desi padanya. Apabila bertemu keduanya saling curhat tentang diri masing-masing. Desi paling memahami tentang Calvin, demikian juga sebaliknya.

“Jangan marah kalau gue bilang elo gay, Vin,” kata Desi satu kali padanya, sebelum ia berangkat melanjutkan kuliah ke Fakultas Ekonomi UGM tahun lalu. Pernyataan itu adalah jawaban Desi padanya atas akumulasi segala pernyataan Calvin tentang sosok laki-laki yang kerap kali diutarakannya pada sepupunya itu.

“Maksud elo?” tanya Calvin deg-degan. Tak menyangka Desi akan berkata seperti itu padanya. Dirasakannya wajahnya panas. Ia tak tahu apakah ia marah mendengar komentar Desi.

“Sebenarnya sudah lama gue pengen ngungkapin hal ini. Tapi gue ragu. Gue kuatir elo marah ke gue,” sambung Desi.

“Gue suka cewek kok Des. Buktinya gue juga ceritain ke elo kan, bagaimana perasaan gue pada Silvia, temen cewek gue di sekolah,” kata Calvin membela diri.

“Maaf kalau gue salah. Tapi perasaan gue menangkap hal yang laen saat elo berbicara soal cowok, siapa namanya, Andre ya? Ya Andre. Elo sangat bersemangat bila bercerita tentang dia. Memang elo bercerita juga tentang Silvia, tapi cerita elo tentang dia, tidak seantusias cerita elo soal Andre. Malah, menurut gue, porsi cerita Andre, lebih banyak dibandingin Silvia. Terlalu banyak hal-hal yang mempesona Andre yang elo rekam di benak elo, dibandingin Silvia. Maaf Vin…………,” kata Desi lirih.

Calvin ingat, saat itu ia hanya terdiam seribu bahasa. Saat Desi memeluknya dengan sayang, dan meminta maaf dengan tulus apabila kata-katanya telah menyinggung perasaan, Calvin juga tetap diam. Mulutnya tak hendak membenarkan Desi, namun di hatinya berperang, ragu, apakah ia memang harus membenarkan atau menolak pernyataan Desi. Apakah perasaan aneh yang selalu muncul di dirinya saat memandang atau mengingat sosok Andre merupakan pembenaran dari apa yang dinyatakan Desi.

Sejak saat itu hubungannya dengan Desi mulai renggang. Selalu ada alasan diciptakannya buat menghindari Desi. Meskipun Calvin sangat menyadari Desi pasti sangat sedih atas penghindarannya itu.

Calvin mencoba menghapus sosok Andre dalam benaknya. Ia mengalihkan pikirannya dengan menceburkan diri pada aktivitas-aktivitas laki-laki disamping kegiatan sekolahnya. Namun ia tak mau melakukannya di sekolah, karena pasti ia akan bertemu dengan Andre bila melakukannya disana. Calvin kemudian memulai kembali kegiatan bela diri Tae Kwon Do yang dulu pernah ditinggalkannya saat kelas 3 SLTP. Selain itu juga ia bergabung dengan Sekolah Sepak Bola Remaja. Namun ternyata tetap saja ia tak bisa menghapuskan sosok Andre dari benaknya.

Kejadian yang dialaminya sore tadi diatas sepeda motor Andre, membuat Calvin tiba-tiba rindu untuk curhat pada Desi seperti dulu. Bolak-balik ia memandangi pesawat telpon yang ada di kamarnya. Namun perasaan bersalahnya karena telah menghindari Desi, membuatnya tak punya keberanian untuk mengangkat gagang telpon.

Capek dengan lamunannya, Calvin akhirnya tertidur. Jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan hampir pukul empat dini hari.

***

Saat istirahat sekolah, Andre mendatangi Calvin ke kelasnya. Calvin yang sedang asik berkutat dengan buku fisikanya kaget ketika Andre menepuk bahunya, “Jadi kan belajarnya pulang bimbingan nanti Vin?” tanya Andre. Cowok tampan itu langsung duduk di kursi depan meja Calvin. Lengannya yang kokoh bersandar pada sandaran kursi. Calvin menganggukkan kepalanya, mengiyakan.

“Pak Simangunsong emang gak salah milihin guru privat buat gue deh,” kata Andre lagi sambil cengar-cengir pada Calvin.

“Ndre, jangan terlalu berharap banyak dari gue dong. Banyak hal yang gue juga gak ngerti. Kita harus sama-sama belajar. Kalo gak, ya percuma aja,” jawab Calvin.

“Siap Pak Guru,” jawab Andre sambil memberi hormat layaknya prajurit pada komandannya. Tetap dengan cengiran yang membuat wajahnya semakin enak dilihat.

Sorenya sepulang bimbingan sekolah dengan berboncengan diatas sepeda motor Andre dan Calvin meluncur di jalan raya kota Jakarta yang ramai menuju rumah Calvin. Harum tubuh maskulin Andre yang menyebar dari balik jaket kulit hitamnya sungguh menggoda Calvin. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, jantung Calvin berdebar keras. Ia sangat terangsang pada cowok ganteng yang memboncengnya ini. Kontolnya membesar lagi seperti kemaren, menempel erat di belahan bokong Andre.

Setiba di rumahnya, Calvin tak mampu memandang wajah Andre saat menyuruhnya masuk. Ia takut Andre menyadari perbesaran ukuran kontolnya sepanjang perjalanan mereka. Andre sendiri kelihatan sangat cuek. Sepertinya ia tak menyadari apa yang terjadi dengan Calvin sepanjang perjalanan tadi. Seperti juga kemaren sore.

Rumah Calvin terlihat sepi. Saat itu jam menunjukkan pukul 18.30 wib. Pada Andre, Calvin mengatakan bahwa kedua orang tuanya belum pulang dan biasanya baru kembali saat ia sudah tertidur lelap nanti.

“Enakan kita makan dulu ya Ndre, supaya belajarnya enggak terganggu,” kata Calvin.

“Boleh aja. Tapi gue mau numpang mandi dulu nih Vin. Badan gue rasanya lengket nih,” jawab Andre.

“Gitu ya. Gue juga rasanya memang perlu mandi nih Ndre. Kalo gitu kita ke kamar aja yuk. Biar elo mandi disana aja,” jawab Calvin.

Calvin membawa Andre menuju kamarnya di lantai dua. Kamar Andre luas. Peralatan lengkap tersedia didalamnya. Televisi 29 inchi, plus DVD player dan Play Station. Juga seperangkat komputer model terbaru. Disudut kamar terdapat kamar mandi besar.

“Itu kamar mandinya. Ini handuk bersihnya. Elo mandi duluan, setelah itu gua. Gua mau ngomong ke Mbak Sum, supaya nyiapin makan malam kita,” kata Calvin. Ia menyerahkan handuk bersih pada Andre.

“Oke,” jawab Andre. Calvin segera meninggalkan Andre. Ia menuju dapur dan kemudian menyuruh Mbak Sum, pembantunya, mempersiapkan makan malam untuknya dan Andre. Kemudian ia segera kembali ke kamarnya di lantai 2.

“Deg!” jantung Calvin berdebar keras saat ia membuka pintu kamarnya. Ia mendengar suara air yang memancar dari shower yang terletak di dalam kamar mandinya. Suara shower hanya bisa terdengar keras memenuhi kamar bila pintu kamar mandi tak ditutup. Perlahan-lahan ia masuk ke dalam kamar. Jantungnya semakin berdebar kencang. Pintu kamar mandi terkuak lebar. Calvin terpaku, matanya menatap lurus tak berkedip ke dalam kamar mandi. Didalam sana Andre yang telanjang sedang asik melakukan gerakan tangan mengocok batang kontolnya sendiri yang sudah mengacung tegak.

Tiba-tiba Andre menoleh ke arahnya. Calvin kaget. Ia gelagapan, dan langsung mengalihkan pandangannya dan berpura-pura menghidupkan televisi. Duduk bersila diatas karpet, matanya menatap layar televisi tapi ia tak memperhatikan siarannya. Jantungnya berdegup keras.

Degup jantung Calvin semakin bertambah keras saat kemudian ia merasakan jemari tangan yang basah membelai lehernya, kemudian melepaskan kaca mata minusnya. Ia memejamkan matanya kuat-kuat. Ia merasakan telinganya seperti digelitik oleh sebuah daging kenyal hangat yang basah disertai dengusan nafas hangat membelai pipinya.

“Gue tau, ini yang selalu elo impikan Calvin,” parau suara Andre membisik di telinganya. Selanjutnya telinga Calvin dengan sukses bersarang dalam kuluman bibir dan gelitikan lidah Andre. Calvin membiarkan saja apa yang dilakukan Andre padanya. Ia tak ingin melarang Andre. Jantungnya terus berdegup semakin kencang.

Jemari tangan Andre kini melepaskan kemeja sekolah Calvin. Tubuh Calvin bagian atas tak menggenakan apa-apa lagi. Dadanya yang cukup bidang kini telanjang.

“Buka mata elo Vin,” bisik Andre. Perlahan-lahan Calvin membuka matanya. Dan betapa kagetnya ia, saat kedua matanya telah terbuka ia menemukan sebuah kontol besar mengacung tegak dihiasi rimbunan jembut lebat berada tepat di depan wajahnya.

Sesaat kemudian kontol besar itu sudah menggesek-gesek mukanya. Dirasakannya geli pada kulit wajahnya akibat gesekan jembut lebat milik Andre. Calvin mengendus-endus batang kontol itu. Wangi sabun, harum menyegarkan.

Tak berlama-lama kontol besar kemerahan itu sudah bersarang dalam mulut Calvin. Calvin menyelomoti batang itu dengan penuh semangat. Meski tak punya pengalamannya sebelumnya, tapi Calvin mengetahui apa yang harus dilakukannya dengan batang kontol besar yang sangat dirindukannya selama ini. Andre menggoyangkan pantatnya maju mudnur dengan gerakan perlahan, penuh kelembutan, mengeluar masukkan batang besar miliknya itu di dalam mulut Calvin.

“Elo menyukainya kan Calvin? Elo suka kontol gue didalam mulut elo kan?” tanya Andre diantara genjotannya.

“Suka bangeth.. Hmmppp…Sreuppssss…..mmpppp…,” jawab Calvin sembari melanjutkan kulumannya pada perkakas Andre dengan penuh semangat. Ludahnya berceceran membasahi batang itu, membuatnya mengkilap indah.

****

Keduanya kini berbaring di lantai, berlawanan arah. Mulut mereka asik mengulum batang kontol milik temannya. Calvin memuluti batang Andre. Sedangkan Andre memuluti batang Calvin yang nongol dari resleting celana sekolahnya. Dari mulut keduanya terdengar suara kecapan-kecapan basah yang semakin membangkitkan birahi mereka.

Setelah puas memuluti batang kontol Calvin, Andre melanjutkan dengan melakukan rimming pada lobang pantat perjaka milik temannya itu. Lidahnya menjilati celah sempit penuh bulu itu. Sesekali lidahnya menusuk-nusuk disana, membuat Calvin mengerang-erang keenakan. Sembari memainkan lidah, jari-jari Andre menyibak celah sempit itu. Menguakkannya selebar mungkin, lalu menyusupkan jarinya ke lorong sempit kemerahan milik Calvin. Calvin mengerang keras. Ia merasakan lobang pantatnya terasa hangat dan penuh. Berulang-ulang Andre menyusupkan jarinya kesana. Ia meludahi lobang itu agar lebih licin, sehingga sodokan jarinya tidak terlalu seret.

Andre merasa celah sempit Calvin sudah dapat beradaptasi dengan baik. Buktinya tiga jarinya sudah dapat menyusup dan merojok disana. Kalaupun Calvin mengerang-erang oleh rojokannya itu, menurut Andre itu merupakan hal yang wajar, sebab Calvin baru pertama kali merasakannya. Andre kini ingin melanjutkan aksinya dengan penetrasi di lobang pantat Calvin.

Andre mengarahkan Calvin agar terlentang di atas karpet. Ia meminta temannya itu untuk mengangkang, membuka pahanya yang kokoh itu selebar-lebarnya. Andre menaiki tubuh Calvin. Meletakkan selangkangannya tepat didepan buah pantat Calvin.

“Elo tahan sakitnya ya Vin. Cuman sebentar doang kok,” katanya, ia tersenyum manis pada Calvin. Temannya itu membalas senyum Andre sambil menganggukkan kepalanya.

Perlahan-lahan Andre mulai menancapkan batang kontolnya yang besar itu ke celah sempit milik Calvin. Tak ada jerit kesakitan dari mulut Calvin. Sekuat tenaga ditahannya rasa sakit pada lobang pantatnya saat senti demi senti batang besar milik Andre memasuki lorong sempitnya. Matanya dipejamkan, tetesan keringat didahinya merupakan pertanda betapa betapa Calvin sangat kesakitan oleh penetrasi itu.

Andre terus berjuang menjebol benteng keperjakaan Calvin. Matanya merem melek, tangannya mencengkeram erat pinggang ramping Calvin. Pantatnya terus mendorong ke depan menyusupkan batang kontolnya menyusuri lorong sempit milik Calvin. Andre merasakan kontolnya seperti diremas-remas dengan kuat oleh dinding lorong lobang pantat Calvin. Dari mulutnya terdengar deru nafas yang keras, “Hohhh…hohhh…hohhhh…,”

Akhirnya, perjuangan Andre membenamkan seluruh batang kontolnya ke dalam lobang pantat Calvin berhasil juga. Ujung kepala kontolnya terasa mentok menyentuh daging empuk yang terasa hangat dan basah, berdenyut-denyut membuat kepala kontolnya terasa geli-geli nikmat.

“Hohhhhhhhh…..,” Andre mendengus keras.

“Udah masuk semua Ndrehhhh?” tanya Calvin.

“Udah Vin. Enak banget men, sempit banget. Lobang pantat elo benar-benar sip. Elo juga benar-benar hebat. Elo sanggup menahan sakitnya,” Andre memuji temannya itu. Calvin tersenyum bangga dipuji seperti itu. Selanjutnya mereka berciuman dengan penuh nafsu.

“Sekarang elo tahan lagi ya Vin, gue akan menggenjot lobang pantat elo,” kata Andre setelah bibir mereka tuntas saling melumat.

“Oke Ndre,” jawab Calvin parau.

Andre meremas buah pantat Calvin yang berkeringat. Kemudian ia menarik buah pantatnya ke belakang, sehingga batang kontolnya tertarik keluar dari lobang pantat Calvin. Belum sampai separuhnya keluar, Andre mendorong pantatnya maju secara perlahan. Kontolnya pun kembali terbenam ke lobang pantat Calvin. Ia merasakan betapa seretnya batang kontolnya bergerak ke luar masuk lobang pantat temannya itu. Calvin mengerang tertahan saat batang kontol Andre dirasakan bergerak keluar masuk lobang pantatnya. Andre terus bergerak berulang-ulang. Lobang kencing pada kepala kontolnya terasa mengeluarkan precum yang mengurangi rasa seret gerakan maju mundurnya.

“Heh…heh..hohh…hohh….enakhhh…bangethhhh…hehh…hohhhh…,” racau Andre. Gerakan pantatnya semakin cepat. Tangan kirinya sibuk meremas-remas tubuh atletis temannya yang licin karena basah oleh keringat, terutama pada buah pantat Calvin yang montok. Sementara tangan kanannya sibuk mengocok batang kontol Calvin yang juga tak kalah besarnya dari milik Andre.

Dari cermin besar yang ada dikamarnya, Calvin bisa melihat pantulan bayangan persetubuhan mereka. Pemandangan yang sangat indah. Tubuh yang bertindihan sama-sama bergoyang seirama. Simbahan keringat yang berkilauan oleh cahaya lampu kamar menunjukkan dengan jelas meregangnya otot-otot mereka yang mulai terbentuk itu. Calvin tersenyum bahagia melihat Andre yang mengerang-erang dengan mata merem melek sedang asing menggenjotkan pantatnya menyodomi dirinya yang menungging pasrah dan melakukan gerakan pantat membalas. Calvin tak pernah membayangkan bahwa dirinya akan disenggamai oleh cowok sejantan Andre seperti hari ini. Tiba-tiba ia tersadar, mengapa cowok sejantan Andre bisa menyenggamainya dengan penuh nafsu seperti ini. Apakah Andre seorang gay? Lalu bagaimana dengan Cindy, kekasihnya? “Mengapa elo lakukan ini pada gue Ndrehhh?” tiba-tiba terlontar saja pertanyaan itu dari bibirnya. Ia sebenarnya tak mengharapkan Andre akan menjawab pertanyaannya itu. ia khuatir Andre akan menghentikan genjotannya oleh pertanyaannya yang tak pantas pada momen indah seperti ini. Namun tanpa diduganya, diantara genjotannya yang tak berhenti Andre berbisik di telinganya, ”Karena gue tahu elo menginginkannya Calvin manisshhh…,”

“Maksudhh elohhhkhhh,” Calvin kembali bertanya.

“Jangan purah-purah..ssshhhhh…, Vin…, Oh. Guehhh, tahuuhhh, kontol elo selalu ngaceng setiap gue boncenghhh…ohhhh. Danhh eohshhhh…..eloh selalu, salah tingkahkhhh…setiap ngomong ke guehhhhshhhhh. Itu artinya elohh…minta gue entotthhhh…ahhhh,”

Calvin tersenyum malu, ternyata Andre menyadari sikapnya selama ini.

“Untunglah ternyatahhhh elo gay Ndre…kalo enggakhhh…aouhhhh…..gue maluhhhh bangethhh…,”

“Ohhhh…ahhhhhh…siapa bilanghhh..gue gayhhhh….ouhhhhhh..,”

“Buktinya elohhhhhh entotihhhh guehhh nihhhh…ouhhhhhhhh,”

Tiba-tiba Andre menghentikan genjotannya, ia mencabut kontolnya dari Calvin.

“Kok diberentiin Ndrehhh?” tanya Calvin bingung. Ia menyesal mengeluarkan kata-kata itu sehingga akhirnya Andre menghentikan perlakuannya. Andre duduk di lantai menatap Calvin tajam. Calvin salah tingkah dan merasa sangat menyesal. Tiba-tiba Andre tersenyum. Calvin menjadi bingung. Ia menatap mata Andre dengan takut-takut. Ada apa ini?

“Calvin, lo jangan salah sangka ya. Bukan berarti kalau sekarang gue ngentot elo itu artinya gue gay kawan,” kata Andre sambil mengelus dagu Calvin.

“Maksud elo?”

Andre tersenyum lagi. Diambilnya celana dalam putih miliknya dari lantai, lalu ia mengusap keringat di dahi Calvin dengan celana dalam itu.

“Gue boleh cerita ke elo?”

“Terserah elo, tapi entar elo lanjutin lagi kan?” jawab Calvin malu-malu. Andre tertawa, diciumnya bibir Calvin lembut. “Pasti sayang. Lobang pantat elo bikin gue gila tau,” Calvin tersenyum senang mendengarnya.

Kemudian Andre mulai bercerita pada Calvin, tentang anak-anak anggota Tim Basket sekolah yang sering melakukan kegiatan sex sejenis.

“Meski bukan homosex, gue dan temen-temen tim basket doyan ngentotin lobang pantat cowok Vin. Apalagi kalo cowoknya masih perjaka dan ganteng kayak elo,” kata Andre cengar-cengir.

“Biasanya abis latihan basket, anak-anak yang nafsu berat langsung aja ngentot di kamar mandi sekolahan. Mereka cuek aja, meskipun di sekitarnya yang lagi mandi ngeliatin sambil ketawa-ketawa. Soalnya udah biasa,”

“Masak sih? Bebas banget ya.”

“Kan cowok semua. Ngapain malu. Semuanya juga sama-sama punya kontolkan. Yang paling seru kalo kita ngentot rame-rame abis latihan di tengah lapangan basket Vin. Masih keringetan semua tuh. Wuihh, asyik banget Vin………., hehehe,”

“Semuanya ngentot?” Calvin terangsang banget membayangkan anak-anak tim basket yang ganteng-ganteng dan atletis itu, rame-rame ngentot dalam keadaan tubuh penuh keringat di lapangan basket. Ia jadi gak sabaran pengen gabung juga.

“Yup,”

“Termasuk si Randy?” tanya Calvin dengan mata mengernyit tak percaya. Selama ini ia mengenal Randy sebagai seorang anak yang alim di sekolah. Kalau ada kegiatan keagamaan ia paling rajin jadi panitia.

“Hehehe, pastilah. Awalnya sih dia gak mau, sama kayak gue dan anak-anak yang lain. Tapi sekarang dia paling doyan tuh,”

“Kok bisa begitu sih Ndre?”

“Awalnya dari kegiatan penerimaan anggota baru Vin. Setiap awal semester kan ada seleksi bagi murid-murid yang pengen gabung ke tim basket. Setelah lulus seleksi kemampuan basket yang sangat ketat, calon anggota baru wajib mengikuti inaugurasi. Acaranya kita buat tengah malam di sekolah. Nah disanalah anggota baru diperkenalkan dengan sex sejenis Vin. Kebiasaan seperti ini udah sejak kapan tahu Vin. Gue juga cuman nerusin doang,”

“Gak pernah ketahuan?”

“Kalo Tim Basket bikin acara di sekolah, kan urusannya gampang. Guru-guru udah percaya banget sama kita Vin. Jadi gak pernah diawasin,”

“Pak Hendro yang jaga sekolahan gimana?”

“Setiap acara dia kita kasih duit. Jadinya dia gak peduli kita mau ngerjain apa di sekolah. Dia percaya anak-anak Tim Basket bisa jagain sekolah. Lagian kalo kita ada kegiatan di sekolah, dia lebih punya kesempatan untuk tidur pulas di rumahnya di samping sekolahan,”

“Oo, gitu ya. Terus?”

“Di acara inaugurasi itu, setiap anggota baru dilarang untuk berpakaian. Semuanya wajib telanjang bulat selama acara. Mereka dikumpulin di dalam ruangan kelas, diputerin film bokep sambil disuruh minum minuman keras sampe mabok. Elo bayangin aja, cowok horny dalam keadaan mabok, disuruh apa aja kan mau, hehehe. Nah pas begitulah mereka dikerjain sampe senior puas,”

“Diapain aja mereka?”

“Terserah seniornya. Ada yang disuruh ngulum-ngulum batang kontol. Ada yang dientotin. Biasanya kalo kontol mereka gede, para senior paling suka. Enak buat dikulum dan rasanya enak banget kalo kita bisa merasakan kontol gedenya nyodok-nyodok lobang pantat kita. Lo tau Wisnu kan?”

“Anak Bali yang ganteng itu?”

“Yoi,”

“Taulah. Dia kelas dua kan sekarang, kenapa dia?”

“Tuh anak, paling disukai ama kita-kita. Kontolnya gede banget Vin, kalo gua gak salah panjangnya sampe dua puluh senti. Bentuknya gemuk dan urat-uratnya jelas banget,”

“Gila. Elo pernah ngerasain punya dia juga? Gak sakit?”

“Hehehe, udah dong. Semua anak basket udah pernah ngerasain punya dia. Sakit sih awalnya, tapi kalo udah dikocok di dalem lobang pantat, enak banget Vin. Gua nagih sampe sekarang.”

“Dasar lo. Ngomong-ngomong, waktu elo jadi anggota baru dulu, yang ngerjain elo pertama kali siapa?”

“Si Doni. Tau kan?”

“Doni? Yang mantan Ketua OSIS sebelum elo itu?”

“Yoi. Gue kan di kader ama dia. Doni itu, suka banget manggil gue ke kelas pas sedang belajar. Paling enggak seminggu bisa tiga kali. Alasannya ke guru mau bicarain soal kegiatan sekolah yang diperintahkan Kepsek. Padahal begitu nyampe di ruangan OSIS gak ada yang dia kerjain selain ngembat lobang pantat gue aja. Kalaupun emang ada rencana kegiatan sekolah, ya dia bicarainnya sambil genjot pantat gue,”

“Dasar. Gak nyangka deh gue. Padahal kan dia pacarnya banyak,”

“Iyalah. Dia doyan banget sama memek. Semua anak basket juga doyan memek. Gue aja doyan banget ama memek Cindy. Tapi gue dan teman-teman gue yang lain juga doyan ama yang namanya lobang pantat cowok ganteng kayak elo,” kata Andre sambil nyengir. Calvin mesem. “Abisnya lobang pantat tuh rasanya lebih seret dari memek. Lagian kalo ngembat lobang pantat gak ada resiko hamil kan. Tapi kalo ngembat memek harus hati-hati, salah-salah gue disuruh nikah masih sekolah gini. Ngentot ama cewek juga gak bisa disembarang tempat dan waktu kan. Lagian jarang-jarang cewek yang mau diembat lobang pantatnya. Tapi kalo ngentot ama cowok bisa kapan aja saat nafsu kita naek. Siapa yang curiga kalo dua cowok masuk kamar mandi sekolahan bareng-bareng. Paling dikirain mau kencing doang, padahal mau kencing enak, hehehe,” Calvin nyengir dengan komentar Andre.

“Lo gak merasa risih ngentot ama cowok Ndre?”

“Awalnya sih iya. Tapi kalo udah dirangsang yang namanya kontol kan pasti ngaceng. Kalo kontol udah ngaceng ya mau gimana lagi. Lobang apa aja bakalan kena embat,”

“Lo gak takut apa, kalo keseringan dientot menyebabkan lobang pantat elo dower. Gimana kalo cewek lo tau?”

“Cuek aja Vin. Cewek gak doyan ama pantat. Lobang pantat kan buat konsumsi cowok. Kalo cewek dia doyannya sama yang ini,” jawab Andre sambil mengacung-ngacungkan kontolnya ke muka Calvin.

“Hehehe, bener juga Ndre,”

“Siniin lobang pantat lo. Gua pengen ngelanjutin, yang tadikan nanggung banget,” kata Andre. Ia menarik pinggang Calvin dan mendudukkannya berhadapan diatas pangkuannya. Mereka tertawa mesra, saling mengelus tubuh masing-masing, dilanjutkan dengan saling melumat bibir dengan penuh nafsu. Pelan-pelan Calvin menduduki batang kontol Andre yang berdiri tegak sekeras kayu, memasukkannya ke dalam lobang pantatnya. Setelah batang kontol itu masuk seluruhnya, Calvin mulai menggerakkan pantatnya naik turun. Andre membalas dengan menggoyangkan pantatnya juga. Mereka bergoyang seirama dengan cepat dan keras. Menimbulkan bunyi tepukan yang memenuhi ruangan. Mereka mengerang, mendesah, menjerit.

“Ouhhh…ouhhhh…lo makin pinter Vin,”

“Ndre…ohhhhh……enak..bangethhhh……….Ndrehhh…ohhhhhhh,”

“Vinhh….ohhhhhhh, ……. jangan bilang-bilang……………….ihhhhhh………. kehhh….. Cindy ya Vinhhhh….shhhhhhh……ouhhhhhhhhh…..,”

“Bilangin….ohhhhhhhh…………apahhh…Ndrehhh?”

“Bilangin….ahhh…..ahhhh…kalohhh…………guehhh…..entot…elohhhh……,”

“Gue bilanginhhhhh….ahhhh……….shhhh……shhhhh…,”

“Janganhhhh…donghhhhh…….,”

“Enakahnannn..manahhh..ama..memek..Cindyhhh..?”

“Enakan memek cindyhhh…..ouhhhhhh….,”

“Gue bilangin ke diahhhhh………kalohh…..gituhhh……ouh……..,”

“Sorryhhhh……salah….aouhhhh….enakan pantat elohh…………… kokgkhhh……ohhh..ohohhh….,”

“Gombal…,ohhhhh…………yahhh…disituhhh…… Ndrehhh,….ohhh…,”

“Suer…ohhh…ohhhh…ohhh…,”

Rencana belajar bersama terlupakan sudah oleh mereka. Andre akhirnya menginap di rumah Calvin malam itu. Berkali-kali mereka mengulang persenggamaan memuaskan birahi yang menggelora hingga pagi menjelang. Lidah mereka sudah sangat mengenal lekuk tubuh masing-masing. Bergantian mereka saling menindih dan menyelipkan batang kontol di lobang pantat temannya. Saat orgasme datang, sperma remaja mereka berceceran membasahi karpet dan sprei tempat tidur, mengalir turun melalui paha kokoh mereka dari lobang pantat yang mendenyut-denyut.

Mereka baru tersadar bahwa persetubuhan itu harus dituntaskan ketika tiba-tiba telepon genggam Andre berdering di pagi hari. Saat itu Andre sedang menungging pasrah dengan kedua tangan memegang tepi ranjang, sementara diatasnya Calvin sedang merem melek keenakan, pantatnya bergoyang-goyang mengeluar masukkan batang kontolnya di lobang pantat Andre.

“Halohhh,” kata Andre

“Ndre, lo gak jemput gue pagi ini? Ini udah hampir jam tujuh tahu,”

“Cindy yah?!! Sorry Cin, shhhhhhh…….gue baru bangun nih. Soalnyaahh gue kemaleman abis belajar bareng Calvinshhhhh. Elo berangkat sendiri aja ya. Soryy banget sayang…shhhhhhhh,”

“Lain kali kasih tahu dong, jadinya gue kan telat juga nih. Elo lagi ngapain sih? Kayak kepedesan gitu?!!,”

“Iyah..shhhh…., pedessshhhhh. Lagi makan rujak sayanghhshhhhhhhh…..,”

“Makan rujak kok pagi-pagi sayang? Nanti mules perutnya,”

“Iyahh..ohh..perut guehhh……..rasanya mulas banget..nihhhhhhh………..shhhhh..,”

Calvin hanya tersenyum-senyum mendengar pembicaraan Andre melalui telepon. Andre tak berbohong mengatakan bahwa perutnya sedang mules saat itu. genjotan Calvinlah yang membuat perut Andre terasa mules.

Andre masih berbicara dengan Cindy melalui ponsel. Sementara Calvin tak menghentikan genjotannya. Ia malah semakin mempercepatnya, karena ia ingin segera mencapai orgasmenya. Calvin tak ingin telat tiba di sekolah. Sambil memegang ponsel di tangan kanan, Andre mengocok batang kontol dengan gerakan yang cepat menggunakan tangan kirinya. Tak sampai semenit akhirnya kedua cowok itu mengerang keras. Batang kontol mereka berdenyut-denyut menyemprotkan sperma.

“Ohohohhhhhhhhhhrrrhgggggh……………,” erang Andre dan Calvin berbarengan.

“Kenapa Ndre? Kenapa?” suara Cindy diseberang sana.

“Udah keluar sayanghhh…ohhh…udah keluar…,” desah Andre.

“Udah keluar? Syukurlah. Lebih longgar kan rasanya?”

“Iya sayanghhhh….ohhhhhhhh……..,”

Cindy mengira Andre sedang buang air akibat mulesnya. Ia tak mengetahui apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada Andre saat itu. Ia tak mengetahui bahwa saat itu kekasihnya sedang menikmati orgasmenya diantara semburan sperma Calvin didalam lobang pantatnya.

“Kalo gitu oke deh. Sampe nanti ya sayang,” Cindy menutup teleponnya di seberang, klick.

Andre langsung melemparkan ponsel ke atas ranjang. Selanjutnya tubuhnya yang berkeringat ambruk diikuti oleh tubuh Calvin yang juga basah kuyup menindihnya. Keduanya terdiam untuk beberapa saat, hanya deru nafas mereka saja yang terdengar memburu memenuhi ruangan.

Minggu pagi yang cerah.

Andre sarapan berdua saja dengan mamanya di rumah. Biasanya acara sarapan hari minggu mereka lakukan bertiga bersama dengan papanya. Soalnya di hari-hari lain, tidak ada kesempatan untuk mereka dapat sarapan bersama, apalagi makan siang bahkan makan malam. Kesibukan kedua orang tuanya, menyebabkan mereka hanya dapat berkumpul bersama di hari minggu pagi.

Papanya yang seorang direktur jenderal di Departemen Dalam Negeri selalu padat dengan kegiatan kantor. Sedangkan sang mama yang aktivis kegiatan sosial selalu sibuk dengan urusan arisan, urusan anak-anak panti asuhan, anak-anak jalanan, anak-anak pengungsi Aceh, Maluku dan segala macam anak-anak lainnya. Akhirnya Andre, sang anak semata wayang, malah kurang diperhatikan.

Pagi itu, sang papa tidak bisa ikut sarapan bersama karena sedang melakukan kunjungan ke daerah. Katanya sih meninjau pelaksanaan otonomi daerah di tiga propinsi. Paling cepat baru kembali minggu depan.

Meskipun kadangkala Andre merasa sedih karena sering ditinggal sendirian di rumah, namun Andre sesungguhnya menikmati kesibukan kedua orang tuanya itu. Rumah yang selalu sepi membuatnya lebih punya banyak kesempatan untuk memuas-muaskan nafsunya di rumah. Ia bisa melakukannya dengan Cindy, sang pacar, atau dengan Calvin teman sekaligus yang mengajarinya menjelang ujian akhir dan SPMB, atau juga rame-rame dengan teman-temannya dari Tim Basket SMU Dwi Warna.

“Hari ini mama pergi lagi ma?” tanya Andre berbasa-basi pada mamanya. Ia tahu pasti, sesudah sarapan nanti mamanya pasti ngeluyur dari rumah dan baru pulang hampir tengah malam.

“Iyalah sayang. Kamu kan tahu, Aceh sedang bergolak nih. Jadinya mama makin sibuk mengurusi pengiriman stock makanan untuk saudara-saudara kita disana sayang,” jawab mamanya dengan senyum penuh kebijakan.

“Harus itu ma. Andre juga mau pergi nih abis sarapan,” kata Andre.

“Belajar bersama Calvin lagi?” tanya mama, sambil memasukkan sepotong roti bakar melalui bibirnya yang tipis. Diusia yang hampir empat puluh tahun, mama Andre masih kelihatan sangat cantik. Tubuhnya padat seperti gadis usia dua puluh tahunan saja. Gimana enggak, sang mama kan rajin fitness dan makan makanan suplemen plus minum jamu untuk menjaga staminan dan kekencangan otot serta kulitnya.

“Enggak ma. Maen basket sama anak-anak,”

“Lho, kamu kan udah dekat ujian akhirnya sayang. Kok bukannya belajar bareng Calvin, malah maen basket?”

“Ini juga main basketnya bareng Calvin kok ma,”

“Hmmm,”

“Iya. Kata Calvin, sekali-kali perlu refresing juga agar pikiran tidak butek karena belajar terus-menerus. Selain itu kesegaran tubuh kan harus dijaga ma,”

“Gitu ya. Kalau gitu ya terserah. Yang penting kamu belajarnya yang bagus ya sayang, supaya bisa lulus dengan nilai baik di ujian akhir nanti. Kalo nilai kamu kurang bagus, cita-cita kamu untuk masuk Akademi Angkatan Udara kan bisa gagal sayang,”

“Beres ma. Yang penting mama doain Andre selalu ya,”

“Pasti sayang,” jawab mamanya dengan senyum sayang.

Andre melahap potongan roti bakarnya yang terakhir. Kemudian berpamitan pada mamanya. “Andre pergi duluan ya ma. Mama kapan berangkatnya?” tanya Andre sambil mencium pipi mamanya.

“Setelah Mama beres-beres dulu sayang,”

“Pergi sama Mas Dharma, Ma?”

“Iya dong sayang. Abis sama siapa lagi. Kan supir mama cuman dia satu-satunya,”

“Oke deh ma. Andre berangkat kalo gitu,” kata Andre, disandangkannya ransel olah raganya ke bahunya.

“Hati-hati ya sayang,”

Andre menuju garasi di samping rumah untuk mengambil sepeda motornya. Ia bertemu dengan Mas Dharma disana. Supir mamanya itu sedang asik berbasah-basah ria, mencuci sedan milik mamanya.

“Selamat pagi Mas Andre,” sapa Mas Dharma ramah pada Andre sambil tersenyum manis memamerkan barisan giginya yang rapi dan putih.

“Pagi Mas Dharma. Masih nyuci mobil mas? Mama udah mau berangkat tuh,”

“Waduh, Mas harus buru-buru kalo gitu,” jawabnya. Kemudian ia sibuk mengelap mobil sedan itu dengan kain yang masih kering. Andre memandangi cowok itu dengan serius. Gimana gak serius, Mas Dharma ini orangnya ganteng. Bodynya putih bersih dan kekar. Saat ini ia hanya menggenakan celana pendek tanpa atasan, memamerkan dada bidangnya yang dihiasi bulu-bulu halus nan lebat.

Dengan cueknya didepan Andre Mas Dharma mengangkat-angkat tangannya yang berotot itu saat mengelap atap mobil. Bulu-bulu lebat di lipatan ketiaknya yang putih itu terpampang jelas di mata Andre. Membuat jakun remaja ganteng itu naik turun menahan nafsu. Rencana Andre untuk segera meluncur menuju rumah Calvin akhirnya tertunda. Andre merasa sayang kehilangan kesempatan menikmati pemandangan bagus didepan matanya ini. Pelan-pelan ransel yang tadi sudah disandangnya diletakkannya di lantai. Ia mendekati Mas Dharma, pura-pura mengamati kegiatan mencuci mobil supir ganteng itu.

“Mas, bagian atas ini masih basah nih,” komentarnya, ia tak mau menimbulkan kecurigaan Mas Dharma.

Mas Dharma ini sebenarnya adalah salah satu dari dua orang ajudan papanya Andre yang bertugas di rumah mereka. Usianya masih muda, baru 24 tahun. Asli Manado. Dia lulusan STPDN. Demikian juga Mas Fadly ajudan papa Andre yang satu lagi, yang saat ini mendampingi sang papa melaksanakan tugas ke daerah. Mereka berdua bertugas sejak sang papa diangkat menjadi dirjen.

Kedua ajudan ini sama-sama kekar. Maklum aja ketika pendidikan dulu mereka kan dididik semi militer. Kebetulan juga keduanya memiliki paras yang ganteng. Saat sang papa memperkenalkan kedua ajudan itu kepadanya, Andre blingsatan. Waktu itu keduanya datang dengan menggenakan seragam semi ketat. Andre dapat melihat dengan jelas otot-otot terlatih dibalik seragam mereka itu. Tonjolan besar di selangkangan mereka membuat kontol Andre ngaceng berat. Akhirnya untuk menuntaskan birahinya yang memuncak Andre melakukan onani di kamarnya, ia belum berani untuk ngajak mereka berhubungan sex.

Andre selalu berharap suatu saat dia bisa ngerjain kedua ajudan itu. Namun sampai saat ini harapannya itu tak pernah kesampaian.

Berdiri dekat-dekat Mas Dharma membuat birahi Andre semakin meningkat. Batang kontolnya sudah berdenyut-denyut. Ia tak mau ngecret sambil berdiri karena horny ngelihatin Mas Dharma. Segera ia meninggalkan ajudan jantan itu. Dalam pikirannya kemudian, lebih baik dia segera menuju rumah Calvin. Disana ia bisa menuntaskan hasratnya pada temannya itu sebelum mereka berangkat ke sekolah untuk main basket.

Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Calvin, bayangan lekuk-lekuk tubuh Mas Dharma sang ajudan ganteng, menari-nari di benak Andre. Apalagi ketika tadi Mas Dharma asik nungging mengelap mobil, bongkahan buah pantat sang ajudan yang montok itu benar-benar membuatnya ngiler.

Andre hampir tiba di rumah Calvin. Tiba-tiba disadarinya ransel olah raganya tak tersandang dipunggungnya. Gara-gara mengamati sang ajudan ia terlupa mengambilnya lagi saat pergi. Segera Andre memutar laju sepeda motornya kembali ke rumahnya. Gimana dia mau main basket kalo pakaian basket tak dibawanya.

Tak sampai lima belas menit, Andre sudah kembali ke rumah. Dilihatnya mobil sedan sang mama yang mengkilap masih terparkir dengan rapi di garasi.

“Dasar mama, beres-beres aja lama banget,” pikirnya. Dicarinya ranselnya di garasi, namun tak ditemukannya disana. Kemana ya? Ia segera menuju dapur mencari Mbak Minah, pembantu rumahnya. Barangkali pembantunya itu menyimpan tasnya.

“Eh, Mas Andre. Gak jadi perginya mas?” tanya Mbak Minah.

“Tadi udah pergi. Tapi ransel saya ketinggalan. Mbak ada lihat gak?”

“Gak ada Mas. Memangnya tadi Mas Andre tinggalin dimana?”

“Di garasi, waktu Mas Dharma nyuci mobil tadi,”

“Mungkin dibawa sama Mas Dharma kalo gitu,”

“Mas Dharma kemana Mbak?”

“Mungkin di kamarnya Mas, kan mau pergi dengan ibu,”

Andre segera menuju kamar tidur Mas Dharma. Tapi tak ada orang disana. Ia hanya menemukan dua tempat tidur yang kosong, milik Mas Dharma dan Mas Fadly. Kamar mandi didalam ruangan kamar itu juga kosong. Ia kembali ke dapur menemui Mbak Minah.

“Gak ada Mbak, kemana ya?”

“Coba liat di ruang kerja Bapak Mas. Tadi ibu menyuruh saya memanggil Mas Dharma ke ruang kerja Bapak. Tapi apa masih disana ya? Coba liat dulu Mas,”

Andre segera menuju ruang kerja papanya yang terletak disamping kamar tidur kedua orang tuanya itu. Sesampainya disana dilihatnya pintu kamar kerja sang papa tertutup. Ia memutar gerendel pintu itu, ternyata terkunci.

Andre segera menuju kamar kedua orang tuanya. Barangkali mamanya masih di kamar itu beres-beres. Ia bisa bertanya tentang keberadaan Mas Dharma pada mamanya. Diputarnya gerendel pintu kamar itu, ternyata tidak terkunci. Andre segera memasuki kamar besar itu. Mamanya tidak terlihat duduk di meja riasnya. Matanya menelusuri seluruh isi kamar. Kosong. Pintu kamar mandi mamanya terbuka, tak ada orang disana.

Matanya kemudian tertumbuk pada pintu penghubung antara ruang kerja papanya dengan kamar tidur kedua orang tuanya itu. Pintu itu dilihatnya buka sedikit. Andre mendekati pintu itu. Barangkali mamanya ada disana, pikirnya. Ketika langkahnya semakin dekat dengan pintu kamar itu, telinganya tiba-tiba menangkap suara-suara dari ruang kerja papanya. Ia menghentikan langkahnya, mencoba berkonsentrasi mendengarkan suara itu. Tiba-tiba jantung Andre berdegup dengan keras. Perasaannya mulai tidak enak. Suara yang didengarnya itu adalah suara-suara erangan-erangan tertahan, milik laki-laki dan perempuan.

Andre semakin mendekat ke pintu kamar yang terkuak itu. Ia longokkan kepalanya sedikit ke celah pintu yang terbuka itu. Serta merta mata Andre melotot melihat pemandangan di ruang kerja papanya itu.

Diatas meja kerja papanya, dua manusia lain jenis dalam keadaan bugil sedang asik memacu birahi dengan penuh nafsu. Kedua manusia itu tiada lain tiada bukan adalah mamanya dan Mas Dharma sang ajudan! Kaki Andre terasa lemas, jantungnya seperti mau copot.

Dari tempatnya berdiri saat ini ia dapat melihat sang mama sedang ditindih oleh Mas Dharma. Mama Andre telentang dengan kaki mengangkang lebar diatas meja, sedangkan diatasnya Mas Dharma melakukan genjotan pantat dengan gerakan yang cepat dan keras sambil bibirnya melumat bibir sang mama dengan buas. Meskipun ia tak bisa melihat batang kontol Mas Dharma, karena terhalang oleh paha mamanya, namun ia yakin seyakin-yakinnya, batang kontol milik ajudan ganteng itu sedang mengebor lobang memek mamanya tanpa ampun. Baik mamanya maupun Mas Dharma sama-sama mengerang-erang keenakan.

Andre tak pernah menyangka akan menyaksikan peristiwa ini. Ia tak pernah menyangka mamanya akan melakukan zinah dengan ajudan papanya sendirinya. Mamanya yang selama ini dikenalnya sebagai aktivis kegiatan sosial dan selalu berbicara soal norma-norma moral, ternyata melakukan perselingkuhan di ruang kerja milik suaminya sendiri!

Andre tidak tahu harus melakukan apa. Ia sangat marah. Mukanya merah, tangannya mengepal-ngepal menahan amarah yang membara. Ia menarik kepalanya dari celah kamar. Dengan kesal dihempaskannya tubuhnya ke atas tempat tidur orang tuanya. Dari ruang kerja papanya terdengar racauan-racauan mesum dari mulut mamanya dan sang ajudan.

“Ohhhhh……..ohhhhhhhhh………………………..enakkkkhhhhh….terusssssshhhhhh….,” racau mamanya.

“Hihhh…hihhh…apahhh…yang enakhhh…hihhh…..buh…,”

“Konthollllsshhhhh…..kamuhhhh…Dahrmahhh…….ouhhhhhhh………..,”

“Ibuh sukahh……hihhh….ouhhh…..ouhhh….sukahhh??….”

“Sukahhh…..besar….bangethhhh…….ouh……Dharmahh……,”

“Hihh…mememkhhhh…ibuhhh….jugahhh….enakkk….buhhh…ohhhh….,”

“Enakhhh?????……..benar…………. enakhh……Darmahhh……….??”

“Yahhh…iyahhh….buhhh…..”

Meskipun sangat marah, racauan yang didengarnya itu sungguh-sungguh sangat merangsang. Birahinya mulai bangkit. Akhirnya meskipun dilanda kemarahan, remaja ganteng itu kembali mendekati pintu penghubung kamar itu. Ia kembali mengintip persenggamaan mesum mamanya dan Mas Dharma itu. persenggamaan mereka sangat bersemangat dan kasar, racauan mereka benar-benar sangat merangsang, akibatnya Andre tak mampu menahan kontolnya yang mulai mengeras. Tangannya kemudian menyusup ke balik celananya, meremas-remas batang kontolnya sendiri.

“Enakhhh…manah…samah….ohhhh…memmek….bu…menterihh…ohhhhh….,” racau mamanya lagi.

“Enakkhhhhh…mememkhhhh……….. ibuhhh……..,”

“Mmmasakhhh sihhh…. Dharamahhh…….. oohhhh….. yesshhhhh….. disituhhh….. ahhhh…,”

“Iyahh… buhhh…. masih… serethhh…. ohhh… njepithhhh…………,”

Andre kaget mendengar racauan itu. Tak disangkanya ternyata Mas Dharma ini pernah ngentot sama istri menteri juga rupanya.

“Kalauhhhh…..samahh…..memek………Fenihhh………..pacarhhhhh……… kamuhh……?”

“Ohhhh………samah……samahh…enaknyahhhh,..buh….ohh…………,”

“Dasarhhhh….sshhhhh….gombalhhhh….ouhhhh…..,”

“Ohhh…ohhhh…ohhhh…..yahhh….ohhh.,……,”

“Kerashhhhh………..oohhhhh……………….besarhhhhh bangethhhhh……ohhhh…,”

“Besar manahhh buhhhh…..sama kontolhhhsshhhhh……… Fadlyhhh…..ohhh…………..,”

“Samahh…samahh…sayanghhhh……ohhhh….yesshhhh…”

Mas Fadly????!!!! Andre benar-benar tak menyangka. Ternyata mamanya pernah juga ngerasain batang kontol ajudan papanya yang satu lagi itu.

Beberapa saat kemudian sang mama dan Mas Dharma berganti posisi. Mas Dharma tidur telentang diatas meja kerja dengan kedua pahanya yang kokoh dan berbulu itu menjuntai ke bawah. Sang mama kemudian duduk diatas selangkangan Mas Dharma. Saat Mas Dharma mengatur posisi, Andre sempat melihat barang perkasa Mas Dharma dengan jelas. Benar-benar besar, gemuk dan panjang dihiasi dengan bulu jembut yang lebat. Panjangnya sekitar dua puluh centimeter. Pantes aja mamanya keenakan banget.

Andre membayangkan bagaimana bila kontol besar milik Mas Dharma itu membetot lobang pantatnya. Pasti gesekannya terasa banget. Lebih terasa dari punya si Wisnu, teman basketnya yang putra bali itu.

Tiba-tiba muncul pikiran nakal di benak Andre. Ia pengen ngerjain mamanya dan sang ajudan. Dikeluarkannya ponsel mungilnya yang memiliki fasilitas video phone itu dari saku celananya. Sambil terus meremas-remas kontolnya sendiri, Andre merekam persenggamaan mesum mamanya dan Mas Dharma itu.

Sang mama menggenjotkan pantatnya naik turun dengan keras. Mas Dharma membalas dengan genjotan pantat yang tak kalah keras. Suara tepokan terdengar keras. “Plokkk…plokkkk…plokkkk…plokkkk….,” Kamar kerja papa Andre diramaikan dengan suara-suara erangan, jeritan, desahan dari mulut mamanya dan Mas Dharma.

“Hahh…… hahhhh…… hahhhh…….. ohhhhhh……….tekan lebihhhh….dalamhhhh,” erangan Mas Dharma kedua tangannya meremas-remas toket Mama Andre.

“Hihhh…beginihhh…..hihhh……..,”

“Lagihhhhh….ohohhhh….ahhhh….ahhhh……,”

“Hihhh…beginihh…ohhhhhhhhhh……..,”

“Yeshhhhh….yeshhhh….terusshhhhh…….ohhhhh……ohhhhh….,”

Tiba-tiba tubuh Mas Dharma yang tadi berbaring bangkit. Dalam posisi tubuh menekuk, kepalanya bersarang di toket sang mama yang besar dan bergoyang-goyang akibat genjotan yang mereka lakukan. Dengan buas Mas Dharma mengisap pentil toket sang mama yang kemerahan.

“Ohhhh… Dharmahhh….nakalhhhhh kamuhhhh……….ohhhhhhhh…..enakhhh…,” mama meracau semakin menggila. Kepalanya bergoyang ke kiri ke kanan. Rambut yang sebahunya yang basah oleh keringat berkibar-kibar. Mama Andre benar-benar keenakan. Kedua tangan sang mama memeluk punggul lebar Mas Dharma dengan kuat.

Tak sampai lima menit dalam posisi seperti itu. Tiba-tiba genjotan mama berhenti. Mulutnya meraung keras. Pantatnya bergetar menekan keras menggencet selangkangan Mas Dharma. Tubuhnya yang basah oleh keringat berkelojotan.

“Ahhhhhhhhhh………….akuhhhh sampaihhhhh…ouhhhhhhh……..,” erangnya. Mas Dharma terus menyelomoti toket sang mama. Semenit kemudian kepala sang mama terlihat bertumpu ke bahu Mas Dharma. Ia lemas karena orgasmenya.

“Saya lanjuthhhh yah buhh..,” kata Mas Dharma minta ijin melanjutkan. Soalnya orgasmenya belum datang.

“Silakan Dharmahhh..ohh..,” suara sang mama terdengar lemas. Mas Dharma kemudian turun dari meja kerja itu. Tanpa melepaskan kontolnya dari lobang memek sang mama, Mas Dharma membopong tubuh sang mama kemudian membaringkannya telentang diatas lantai yang berkarpet. Kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya menyetubuhi sang mama. Andre bisa melihat tubuh mamanya yang lemas itu dikentot Mas Dharma dengan penuh keperkasaan.

“Sakit buhhh… ahhh…?”

“Terus sayanghhhhh…… saya istirahat sebentar ahhhh………. Kamuhhh terusshhh ajahhhhhh….. ohhhhhhh…,”

Tak sampai lima menit sang mama kembali bergairah. Pantatnya kembali bergerak-gerak dengan luwes membalas gerakan Mas Dharma. Rupanya sang mama tak mau hanya menjadi objek. Tiba-tiba ia membalikkan posisi, untuk kemudian menindih tubuh atletis sang ajudan ganteng yang bersimbah keringat. Dengan penuh semangat sang mama kemudian menggenjot pantatnya naik turun mengocok batang kontol Mas Dharma dengan memeknya yang basah dengan cairan lendirnya sendiri, sambil menciumi bibir ajudan muda ganteng itu dengan binal. Dari mulutnya keluar erangan-erangan. “urghhhh…..urghhhh…..yahhh…yahhh,”

“Ohhhh….. ibuhhhh…. Ohhhh………… buashhhh….. banget……….. ohhhhhh…….,” racau Mas Dharma.

“Kamuhhh ……… sukahhh…………. kanhhhhhh……,”

Begitulah. Permainan cabul antara mamanya Andre dan Mas Dharma yang memakan waktu tak kurang dari dua jam itu akhirnya usai dengan skor 5-2 untuk kemenangan Mas Dharma. Maksudnya, sang mama ngecret tiga kali, sedangkan Mas Dharma ngecret dua kali saja didalam memek sang mama.

Andre sendiri ngecret dua kali. Sperma kentalnya melumuri daun pintu kamar penghubung. Ia sangat terangsang menyaksikan live show sang mama dan Mas Dharma. Ia tak sabar untuk segera dapat mengerjai sang ajudan yang gila ngentot itu. Dengan tubuh yang masih terasa lemas akibat orgasme, perlahan-lahan Andre meninggalkan kamar orang tuanya. Spermanya yang menempel di daun pintu kamar dibersihkannya terlebih dahulu. Saat meninggalkan kamar, Andre, masih sempat melirik mamanya dan Mas Dharma yang berbaring saling berpelukan di lantai. Keduanya terlihat sangat lelah.

Andre segera melaju kembali dengan sepeda motornya menuju rumah Calvin. Sepanjang perjalanan ia menyusun rencana untuk mengerjai mamanya dan Mas Dharma nanti. Ia tersenyum-senyum cabul membayangkan rencananya itu.

Setiba di rumah Calvin, teman sekolahnya itu sudah menunggu di teras sambil duduk santai membaca majalah remaja. Calvin menggenakan t shirt putih polos dan celana jeans biru plus topi pet hitam. Wajah gantengnya tersenyum senang menyambut kedatangan Andre.

“Kok telat Ndre?” tanyanya.

“Sorry Vin. Ada urusan sama mama tadi,” jawab Andre nyengir. “Kita langsung cabut aja yuk. Udah hampir jam sepuluh nih,”

Calvin mengiyakan, segera ia duduk di boncengan, rapat di belakang tubuh Andre. Tangannya diletakkannya di paha Andre. Kemudian kedua remaja SMU itu melaju menuju sekolah mereka.

“Kok gak bawa baju olah raga Vin?” tanya Andre di tengah perjalanan.

“Gak usahlah. Gue kan bukan anak basket. Kesana juga cuman mau liat permainan basket doang,” jawabnya.

“Liat permainannya, atau liat pemainnya nih?” tanya Andre menggoda.

“Dua-duanya. Hehehe,”

“Vin, ini perasaan gue aja tau emang bener sih?”

“Maksud lo?”

“Elo ngaceng ya? Kok rasanya ngeganjal nih di bokong gue,”

“Enak aja!”

Andre tertawa ngakak. Sementara Calvin tersenyum malu di boncengan. Kontolnya memang sudah ngaceng sejak nungguin Andre dari tadi. Ia tak sabar menantikan apa yang akan terjadi nanti di sekolah.

Meskipun bukan anggota basket, tapi Calvin kini tak asing lagi dengan komunitas itu. Pergaulan anak-anak basket yang terkenal sangat eksklusif di SMU Dwi Warna dapat dimasuki olehnya.

Ini semua berawal dari ajakan Andre untuk menyaksikan latihan basket di sekolah. Setelah mendengar cerita Andre tentang kedoyanan anak-anak basket pada memek cewek dan silit cowok itu, Calvin jadi pengen ikutan gabung berpesta sex dengan anak-anak basket yang ganteng-ganteng dan macho-macho itu. Lalu ia mengutarakan keinginannya itu pada Andre saat mereka sedang melepas lelah seusai memacu birahi di kamar Andre selepas belajar bersama.

Andre menyambut keinginan Calvin itu dengan gembira. “Gue omongin ke anak-anak dulu ya,” kata Andre sambil mencium pipi temannya itu dengan sayang. “Lagian gue pengen latihan lagi nih, udah lama banget gak pernah latihan.”

“Pengen latihan karena emang udah lama gak latihan, atau karena udah lama gak ngentot rame-rame dengan mereka?” goda Calvin.

“Dua-duanya deh. Hehehe,” jawab Andre manyun. Calvin segera melumat bibir manyun itu dengan penuh semangat.

Ternyata anak-anak basket setuju. Mereka menjadwalkan acara pesta sex seusai latihan basket minggu pagi.

Maka, di suatu minggu pagi yang cerah, Andre mengajak temannya itu menyaksikan latihan basket di sekolah. Calvin sempat gelisah karena menyangka acara pesta sex yang mereka rencanakan akan batal, karena sampai jam sembilan pagi menunggu, Andre tidak nongol-nongol juga di rumah. Padahal mereka berjanji berangkat jam setengah delapan pagi. Andre telat karena sedang asik menonton persenggamaan mamanya dengan ajudan papanya sendiri, Mas Dharma. Ketika akhirnya Andre datang juga saat jam menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi, Calvin benar-benar merasa sangat bahagia. Apa yang dibayang-bayangkannya selama menunggu Andre akhirnya akan dirasakannya juga.

Minggu pagi itu anak-anak basket yang menghadiri latihan basket lebih ramai dari biasanya. Anggota-anggota yang sudah jarang latihan karena mempersiapkan diri untuk persiapan ujian akhir dan SPMB seperti Andre, banyak juga yang datang. Tak kurang dari tiga puluh remaja hadir dalam latihan basket kali ini. Rupanya berita dari mulut ke mulut tentang akan diadakannya pesta sex khusus, dengan menghadirkan Calvin sebagai bintang tamu sudah menyebar secara luas di antara anggota basket.

Melihat begitu banyaknya anggota basket yang hadir, Calvin sempat ciut juga nyalinya.

“Gila Ndre. Rame banget, mana kuat gue,” bisiknya pada Andre.

“Habisnya selebritisnya datang sih. Santai aja men. Makin rame makin seru tau,”

“Sadis!”

“Hehehehe,”

Selama latihan basket dilangsungkan, anak-anak basket semuanya berlatih secara bergantian. Diantara mereka tak ada satupun yang menghiraukan kehadiran Calvin. Semuanya cuek dan sibuk berlatih, atau menonton dari tepi lapangan. Bila Andre ikut turun bermain ke lapangan, maka Calvin hanya duduk sendiri. Tak ada yang menyapanya, tak ada yang mengajaknya ngobrol, atau sekadar senyum doang. Calvin kembali ragu, apakah acara pesta sex memang benar-benar akan dilangsungkan seusai latihan atau tidak.

“Jadi apa enggak sih Ndre?” bisik Calvin, saat Andre mendekatinya untuk berisitirahat sejenak, seusai latihan.

“Apanya?” tanya Andre kemmbali, sambil tangannya mengelap keringat yang membasahi wajah gantengnya.

“Pesta sexnya,”

“Oooo, jadi dong, emang kenapa? Udah gak sabar ya?” goda Andre.

“Bukan gitu. Kok anak-anak cuek semua ke gue?”

“Maksud elo?”

“Katanya gue selebritisnya hari ini, kok anak-anak satupun gak ada yang nya gue?”

“Hehehehe. Ge er banget sih. Pengen disapa atau pengen digodain mereka?”

“Yeeeee…., bukan gitu,”

“Santai aja, anak-anak memang begitu, kalau udah latihan semuanya serius. Gak ada yang diperhatiin kecuali permainan di lapangan. Entar kalo udah ngentot ya serius juga. Gak ada yang diperhatiin selain ngentot, hehehehe. Yang penting, elo siap-siapin fisik aja ya. Tu anak-anak satu per satu bakal ngerjain elo, sampe elo pingsan, hehehe,”

Hampir jam dua belas siang akhirnya latihan basket usai. Semua anggota basket istirahat sambil minum-minum dan menyantap makanan kecil. Tak ada lagi yang menggenakan kaos basket. Semuanya bertelanjang dada memamerkan otot-otot remaja mereka yang mengkilap karena basah oleh keringat. Mata Calvin melirik kian kemari bak penari Bali, memandangi mereka semua. Jakunnya naik turun saking nafsunya menyaksikan pemandangan bagus di depannya itu.

“Guys, kenalin teman gue nih. Calvin,” seru Andre tiba-tiba pada anak-anak basket yang sedang asik melepas lelah. Serempak ketiga puluh pasang mata itu menoleh pada Calvin, menatapnya tajam dari atas ke bawah, membuat cowok ganteng itu salah tingkah.

“Boleh juga,”

“Lumayan,”

“Udah punya cewek belom?”

“Pemalu banget,”

“Anak mami ya,”

Segala macam komentar dari mulut anak-anak basket segera memenuhi ruangan. Calvin semakin salah tingkah. Apalagi ketika komentar yang timbul semakin mengarah-arah ke percabulan. Mukanya merah padam, sementara Andre yang duduk disampingnya, hanya cengar-cengir mesum.

“Masih perjaka ya Ndre?”

“Udah lo kerjain dong Ndre,”

“Gede gak?”

“Masih sempit dong,”

Remaja-remaja SMU itu terus berkomentar. Sambil tertawa-tawa nakal. Malah ada yang mulai meremas-remas selangkangannya sendiri. Jantung Calvin berdebar keras, antara malu dan nafsu yang semakin menggelora.

Kemudian salah seorang dari mereka mendekati tempat Calvin dan Andre duduk. Namanya David, siswa turunan China yang masih duduk di kelas dua. Wajahnya imut, mirip Ekin Cheng pemain film Hong Kong. Kemudian ia berdiri tepat di hadapan Andre. Tanpa banyak bicara, dengan sekali hentakan anak itu menurunkan celana basket sekaligus celana dalamnya. Kontolnya yang besar dan tidak disunat itu langsung disorongkannya ke bibir tipis Andre. Sambil tersenyum Andre segera memasukkan kontol itu ke dalam mulutnya. Anak-anak basket yang lain tertawa-tawa riuh. Calvin pura-pura membuang muka. Pesta sex dimulai sudah.

“Kok malu-malu sih? Gue tau kalo elo juga pengen,” kata David sambil menarik dagu Calvin agar dapat menyaksikan oral yang dilakukan Andre pada kontolnya. Calvin hanya mampu menelan ludahnya menyaksikan bagaimana mulut Andre asik memuluti batang besar kemerahan itu. Tak disadarinya kalau dua orang anak basket lainnya mendekati tempat duduknya.

“Kalo pengen, langsung aja Vin. Nih kami beri elo dua sekaligus,” itu suara Dhimas. Calvin menolehkan kepalanya ke atas ke arah datangnya suara itu. Dua wajah ganteng milik Dhimas dan Taufik tersenyum mesum padanya. Kepala kontol mereka sudah menggesek-gesek pipinya.

“Cicipin nih kontol gue. Gak usah malu-malu,” kata Taufik, anak 3 IPA asal Ternate. Calvin menurunkan pandangannya. Didepannya sudah terhidang dua batang kontol besar milik dua temannya itu. Kontol Dhimas yang duduk di kelas 3 IPS itu juga tidak disunat seperti David. Sedangkan kontol Taufik disunat.

“Kulum dong Vin, hmmmppppp,” kata Andre padanya, sambil terus memuluti batang kontol David. Dengan ragu Calvin menggenggam kedua batang kontol itu dengan kedua tangannya. Tangan kiri menggenggam milik Dhimas, sedangkan tangan kanannya menggenggam milik Taufik. Ia meleletkan lidahnya, menjilat kepala kontol itu satu per satu bergantian.

“Gitu dong,” kata Dhimas dan Taufik serempak. Mereka tertawa-tawa menyaksikan apa yang dilakukan Calvin. Anak-anak basket yang lain juga mulai sibuk memuaskan birahi masing-masing. Mereka saling merangsang. Ada yang langsung mengulum kontol milik temannya. Ada yang asik menjilat-jilat bagian-bagian tubuh milik temannya, seperti pentil, dada, ketiak, perut dan lain sebagainya. Suasana lapangan basket sudah berubah jadi ajang percabulan remaja-remaja gila sex. Suara erangan, desahan, ditingkahi dengan tawa-tawa renyah mereka memenuhi ruangan.

Calvin semakin bersemangat. Kini dua batang kontol itu sudah asik dikulumnya. Kadangkala ia mencoba memasukkan sekaligus dua batang kontol itu. Dhimas dan Taufik mengerang semakin keras. Mereka sangat keenakan oleh perlakuan Calvin. Jemari tangan mereka sibuk meremas-remas rambut kepala Calvin.

Andre yang duduk di sebelah Calvin sudah mulai meningkatkan aktivitasnya. Mulut dan lidahnya asik melakukan rimming di celah pantat David. Cowok kelas dua itu merem melek keenakan dalam posisi mengangkang membelakangi Andre. Tubuhnya membungkuk seperti orang sedang sholat, kedua tangannya bertumpu pada betisnya. Sementara itu, tubuh atletis Andre asik dijilati oleh Ruben dan Robin. Dua cowok macho kembar identik yang masih duduk di kelas satu. Sesekali Calvin melirik Andre yang meringis-ringis keenakan oleh ulah kedua cowok kembar yang kaya bulu-bulu halus itu. Dalam hatinya ia ingin juga diperlukan seperti itu.

Wisnu kemudian mendekati Calvin, Dhimas, dan Taufik. Mulutnya langsung menjilati dada Dhimas dan Taufik bergantian. “Gantian dong, gue dikulum Calvin juga,” katanya. Dhimas lalu menarik batang kontolnya yang penuh ludah dari mulut Calvin. Wisnu segera menggantikan posisi Dhimas. Sedangkan Dhimas kemudian duduk disebelah Calvin. Kepalanya langsung menyantap batang kontol Calvin.

Sejenak Calvin terperangah memandang perkakas Wisnu. Apa yang dikatakan Andre padanya ternyata benar. Batang kontol cowok Bali itu benar-benar besar dan diramaikan dengan urat-urat. Berwarna gelap dan dipenuhi jembut keriting yang lebat. Tak berlama-lama Calvin langsung memasukkan batang besar itu ke dalam mulutnya. Kemudian berkonsentrasi menyelomoti batang besar itu. Batang Taufik yang kalah gede dari milik Wisnu dicuekkannya.

Taufik kemudian mengikuti Dhimas berbaring disebelah Calvin. Selanjutnya dua cowok itu asik menyelomoti batang kontol Calvin.

Pesta sex semakin panas saja. Anak-anak basket yang lain juga pengen merasakan mulut Calvin. Sedang asik-asiknya Calvin memuluti peralatan Wisnu tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh seseorang. Batang kontol Wisnu yang belepotan ludahnya tercerabut dari mulutnya.

“Apa-apaan sih lo Chan? Gangguin orang yang lagi asik aja lo,” protes Wisnu pada Chandra, cowok yang tadi menarik tubuh Calvin.

“Iya nih, Chandra. Gua dan Taufik kan lagi asik juga,” sambung Dhimas.

“Hehehehe. Gantian dong. Anak-anak laen kan juga pengen ngerasain mulut binal si Calvin. Liat tuh,” tanggap Chandra cuek. Ia menarik Calvin ke tengah lapangan. Disana sudah berbaris tak kurang dari sepuluh orang remaja ganteng dengan menggenggam dan mengocok-ngocok batang kontol mereka yang mengacung tegak. Mereka cengengesan memandangi Calvin, Wisnu, Dhimas, dan Taufik.

“Hehehe. Jangan makan sendiri dong,” kata Andre ditengah-tengah permainannya dengan David, Ruben, dan Robin. Saat ini ia sedang asik mengulumi batang kontol Ruben. Sementara Robin mengulum kontolnya dan David mengulum kontol Robin.

Tak lama Calvin sudah sibuk melakukan oral pada sepuluh remaja yang berangkulan tangan dibahu dan berdiri rapat mengelilinginya. Ia tak lagi memperhatikan siapa saja pemilik kontol-kontol besar yang tertawa-tawa mengelilinginya itu. Jantungnya berdegup kencang karena sangat terangsang. Gimana enggak terangsang? Sepuluh batang kontol besar mengelilingi dirinya. Saat mulutnya serius dengan satu atau dua batang kontol, batang-batang kontol yang lain menggodanya dengan menggesek-gesek kepalanya, lehernya, pipinya. Meminta untuk segera dikulum oleh Calvin.

Tiba-tiba terdengar suara racauan yang keras dari arah tiang ring basket. “Ohhhh….. yessshh……., lebih cepathh……. ohhhh………. kerashhh……… ohhhhhhhh……..,”

Calvin menghentikan kulumannya sejenak. Ia menoleh ke arah racauan itu. Di tiang ring dilihatnya Dhimas sedang disodomi oleh Wisnu dengan gerakan pantat yang cepat dan keras. Suara tepukan pahanya beradu dengan buah pantat Dhimas bergema memenuhi ruangan. Racauan itu berasal dari mulut Dhimas yang merem melek keenakan. Sementara itu Taufik asik mengulumi batang kontol Dhimas yang tegak.

“Pengen di sodomi juga Vin?”

“Sabar men, entar lo dapat jatah juga,”

Cowok-cowok yang mengelilingi Calvin sibuk berkomentar melihat reaksi Calvin menyaksikan persenggamaan yang dilakukan oleh Wisnu dan Dhimas.

Sementara itu di sudut biru, eh di sudut yang lain, Andre juga sudah asik melakukan penetrasi pada lobang pantat David yang tadi sudah di rimmingnya. David menungging di lantai lapangan basket, disodomi oleh Andre. Sementara Andre disodomi oleh Robin. Sedangkan Ruben berbaring telentang dibawah David, mulutnya dientot oleh batang kontol David. Mereka berempat bergerak ritmis sambil mengerang-erang dan meracau keenakan.

Kembali Calvin ditarik oleh seseorang. Saat itu ia sedang asik mengulum batang kontol Chandra. Rupanya yang menariknya kali ini adalah Randy.

“Mau ngapain Ran?” tanya Chandra.

“Gak bosen lo disepong mulu? Sekarang udah waktunya ngentotin dia,” jawab Randy, si imut yang wajahnya dihiasi kumis, cambang dan jenggot tipis itu. Randy ini turunan Pakistan, sekilas wajahnya mirip dengan Hrithik Roshan pemain film India yang sedang naik daun itu.

Randy kemudian menyuruh Calvin menungging. Mulutnya segera mempereteli lobang pantat Calvin yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Celah sempit kemerahan milik Calvin dijilatinya dengan penuh nafsu. Dalam kesehariannya di sekolah Randy ini terkenal sangat dingin dan alim. Namun ternyata kalau sudah nafsu, seperti saat ini, dia sangat liar dan buas. Lidahnya menari-nari menerobos celah sempit Calvin.

Aksi Randy disusul oleh Razak, cowok kelas satu blasteran Betawi dan Padang. Mulutnya segera merimming lobang pantat Randy. Dibelakang Razak ada Devon, cowok kelas dua yang juga turunan China seperti David. Dibelakangnya ada Chandra, lalu cowok lain, hingga akhirnya sepuluh cowok yang tadi menggilir Calvin kini asik saling merimming seperti sedang bermain kereta api. Mulut, lidah, dan jari jemari mereka sibuk mengerjai celah lobang pantat milik teman didepannya.

Setelah merasa cukup melakukan rimming, dengan arahan dari Randy, mereka kemudian melakukan sodomi berantai dalam posisi menyikukan kaki di lantai. Calvin paling depan disodomi oleh Randy. Tangan Randy sibuk mengocok-ngocok batang kontol Calvin.

Dalam waktu berselang lima menit, mereka kemudian bergantian menyodomi Calvin dalam posisi tetap berantai. Rupanya permainan mereka membuat teman-teman yang lain ikut bergabung. Wisnu langsung mengambil posisi di depan Calvin. Batang kontol Calvin segera dibenamkannya ke dalam lobang pantatnya. Taufik tak mau ketinggalan. Dimasukkannya batang besar Wisnu ke lobang pantatnya sebelum keduluan Dhimas. Akhirnya Dhimas disodomi oleh Taufik. Andre menyusul memasukkan batang kontol Dhimas sambil terus mengentot David. Didepan David ada Ruben yang menyodomi kembarannya sendiri, Ruben.

Sodomi berantai itu akhirnya disudahi dengan orgasme bersama didalam lobang pantat teman yang berada didepannya. Ruben yang berada dibarisan paling depan menyemburkan spermanya ke lantai.

(capek deh lu ngebaca nya)