Minggu pagi. Minggu yang cerah. Sebagian besar kaun bapak di RT-ku bergotong royong membersihkan lingkungan yang rutin dilaksanakan sebulan sekali. Rutinitas bulanan yang sangat aku sukai. Selain berolahraga aku juga bisa memanfaatkannya untuk memanjakan selera homoku. Bagaimana tidak? Para bapak itu umumnya hanya mengenakan celana pendek yang bias menunjukkan kekekaran paha dan betis mereka. Dan yang terpenting, sebagian besar dari mereka memiliki tonjolan yang lumayan besar di depan celananya. Akh… Aku memang belum pernah melihat satu pun kontol mereka. Namun, aku yakin ukuran mereka cukup banyak yang di atas standar. Semoga saja ada yang menjadi milikku pagi ini!

“Bapak-bapak! Istirahat dulu… Ada lontong, nih!” teriakan Mang Udin menghentikan kegiatan seluruh peserta kerja bakti.

“Hahhh… Lontong?!” canda Pak Edi yang berkonotasi seksual itu memancing tawa seluruh bapak-bapak itu. Aku jadi terangsang mendengarnya.

“Lontongnye siape?” tukas Bang Jali dengan gaya Betawi-nya.

“Lontongnya Pak RT! Tadi Bu RT yang mengantarkan…” jawab Pak Soleh polos. Spontan yang lain tertawa makin terpingkal. Pun aku. Pak Soleh yang kalem tapi juga polos itu agak terbengong mendapat reaksi demikian.

“Lontongnye Pak RT segini, nih?” Bang Jali menggenggam lontong yang belum terbuka dan mengacungkannya ke atas. Acungan tangannya diikuti seluruh pandangan para pekerja bakti. Hingga meledaklah tawa mereka.

“Lho, mengapa semua menertawakan? Ada yang salah kalau lontong saya sebesar itu?” tanya Pak RT. Ia penasaran rupanya.

“Segitu belum besar, Te!” tukas Pak Edi. Yang lain tertawa lagi.

“Itu belum bangun, Pak Edi…” bela Pak RT.

“Kalau sudah bangun seberapa, Te?” Mang Udin berlagak penasaran.

“Yaaah… bisa-bisa saya yang paling besar di sini…” agak gelagapan Pak RT menangkis pertanyaan Mang Udin. Ada nuansa gengsi dalam nada suaranya.

“Wah! Yang bener, nih?” tanya Bang Jali mengejek.

“Coba kita cek, Pak RT…” usul Pak Soleh. Lagi-lagi dengan keluguannya kami semua tertawa. Kecuali Pak RT.

“Oh, jangan, dong! Itu urusan pribadi… Bukan konsumsi orang banyak!” kelitnya berdiplomatis. Semakin kentara gengsinya. Pak RT, gitu loh!

“Kalau cuma satu orang yang lihat boleh, Te?” goda Bang Nasrul.

“E…e…” Pak RT gelagapan. Lagi-lagi kami tertawa. Hal ini membuat wajah Pak RT bersemu merah. Aku menikmati sekali gaya bercanda bapak-bapak ini.

“Gimane, Te? Berani buktiin nggak kalo lontong ente paling gede di sini?” Bang Jali kembali memancing gengsi Pak RT. Aku berharap Pak RT mengiyakan. He…he…

“Memangnya bapak-bapak yang lain tidak malu kalau diminta memperlihatkan lontong masing-masing?” Pak RT mencoba mengalihkan perhatian hadirin dari lontongnya. Hi…hi…hi…

“Buat ngebuktiin omongan ente, Te, kite semua kagak ragu melorotin kolor masing-masing!” Bang Jali seolah-olah menjadi perwakilan warga. Ucapannya tersebut membuat beberapa bapak misuh-misuh. Tidak pede sepertinya.

“Ah, saya sih kecil! Tidak usah dibuktikan lagi!” sela Pak Soleh segera. Yang lain langsung tertawa lagi.

“Wah! Kasihan Bu Soleh, dong…” ejekan Pak Edi membuat Pak Soleh mengkeret. Beberapa bapak yang sebelumnya berniat bersikap seperti Pak Soleh langsung mengubah strategi. Nah, looo….

“Kalau saya lumayan besar, tetapi tidak sebesar Pak RT…” Pak Jono salah satu pengubah strategi itu berdalih.

“Lho? Sudah pernah lihat lontong Pak RT, Pak Jono?” ledek Mang Udin seolah-olah bertanya. Pak Jono tidak menjawab. Hanya wajahnya yang memerah. Malu. Jangan-jangan… memang pernah, nih! Kik..kik…kik…

Suasana bertambah hangat. Celetukan-celetukan beraroma kontol betul-betul menggairahkan aku. Kurasakan kontolku sudah ngaceng sejak tadi. Namun, aku mencoba menyembunyikannya dari yang lain. Takut ketahuan kalau… hombreng! Huuu…

“Udeh, sekarang gini aje: Kita tarohan! Yang lontongnye lebih kecil dari ente, Te, gantiin ente ronda! Jadi, kalo ade lima orang yang lebih kecil lontongnye, ente bisa ngaso ngeronda selama lima minggu, Te!” Yups. Pancingan yang jitu! Oh, Bang Jali! I love you! Lelaki satu ini benar-benar membuat Minggu ini begitu berarti bagiku. Kwakakkakk…

Pak RT terlihat terkejut. Ia mulai tidak pede. Sebagian bapak yang sealiran dengan Pak Soleh hanya menggerutu. Sepertinya tidak terima , tetapi tak berdaya menolak usulan Bang Jali. Takut dikick balik oleh Bang Jali dan Pak Edi. Lihat saja Pak Soleh dan Pak Jono! Jadi kalem… Kasihan…

“Sebentar, Bang Jali! Kalau yang lontongnya lebih besar dari Pak RT dapat apa ?” tanyaku kritis.

“Pak Sugi benar, Bang! Yang lebih besar dapat apa?” Bang Nasrul mendukungku. Nampaknya ia juga bernafsu dengan tarohan tersebut. Hmm, darahnya masih muda. Baru dua puluh tujuh.

“Digantikan rondanya oleh Pak RT!” usul seseorang.

“Bebas iuran warga selama satu bulan!” usul yang lain.

“Anaknya dapat beasiswa!” usul yang aneh.

“Dapat beras tiga setengah liter!” usul yang juga aneh.

“Gratis naik haji!” makin aneh.

“Diisep sampai puas!” lebih dari aneh. Upss! Usul siapa itu? Oh, ternyata usulku sendiri. Untung cuma dalam hati…

Pak RT semakin memucat. Bang Jali, Pak Edi, dan Bang Nasrul sepertinya ingin membuatnya semakin pasi. Aku menikmati sekali kejahilan tiga lelaki iseng tersebut.

Akhirnya diputuskan bahwa yang lontongnya lebih besar daripada Pak RT dapat menentukan sendiri hadiahnya dari Pak RT, tetapi yang realistis. Dengan catatan diungkapkan sebelum dilakukan pembuktian ukuran dan disetujui oleh para pekerja bakti (cieee…). Pak RT sepertinya sudah tidak bernafas, tetapi jantungnya terus berdetak cepat. Aku juga… tapi dengan alasan yang berbeda tentunya! Ha…ha…ha….

Pak Soleh, Pak Jono, Mbah Broto, dan Mas Nono langsung menyatakan siap menggantikan Pak RT ronda. Lumayan, sebulan Pak RT bisa puas mengeloni isterinya tanpa kewajiban lain yang mengganggu. He…he…

“Saya dibelikan viagra saja!” Mang Udin menyebut keinginannya. Terlalu mahal. Disetujui Pak RT mengurutnya selama satu jam sebagai penggantinya.

“Pak RT onani di depan saya!” Gila. Pak Edi benar-benar gila. Disetujui, tetapi dilakukan hanya di depan Pak Edi. Huuu… Penonton kecewa! Cuma aku, sih….

“Aye mau kontol aye diisep ente, Te, ampe muncrat!” permintaan yang seksi. Pak RT makin memutih wajahnya. Disetujui, tetapi jika kontol Bang Jali yang lebih kecil, dia harus bersedia melakukan hal yang sama. Dan… tetap dilakukan di ruang tertutup hanya mereka berdua. Huuu… lagi.

“Saya mau Pak RT menonton bokep semalaman dengan saya dalam keadaan bugil!” permintaan Bang Nasrul, si jejaka. Disetujui, tetapi dilakukan di ruang tertutup. Hanya berdua. Huuu…lagi-lagi.

“Kalau saya ingin kontol Pak RT dikocok oleh orang yang memiliki kontol paling besar dan disaksikan oleh peserta taruhan!” Ini permintaanku. Tidak malu. Sudah ada yang meminta dengan aroma serupa, bukan? Disetujui, tetapi hanya aku yang menonton. Itu pun jika si pemilik kontol terbesar bersedia melakukan tugasnya. Jika tidak, Bang Jali yang akan melakukannya. Ooohhhh… Bang Jali benar-benar memanjakanku! Sadarkah ia?….

Selebihnya, delapan orang bapak yang lain tidak ingin bertaruh. Namun, mereka tetap berpartisipasi dalam pengukuran kontol. Sekadar menghapus rasa penasaran, katanya. Ah,… masak?

Seluruh pekerja bakti akhirnya menuju aula RT. Seluruh pintu dan jendela dikunci. Ruangan dibiarkan terang benderang karena sudah dipastikan pemandangan di dalam tidak tembus ke luar.

Kami semua berdiri melingkar. Kecuali empat orang yang sudah mengaku kalah tentu saja. Sesuai kesepakatan kami diwajibkan membuat kontol kami masing-masing menjadi ngaceng. Akh, aku sudah dari tadi!

Tidak sampai tiga menit semua batang kontol telah menegang. Pak RT yang berada di tengah lingkaran sepertinya belum maksimal. Mungkin ia stress. Ditunggu sampai menit kelima buat Pak RT menegangkan kontolnya. Selanjutnya akan langsung diadakan pengukuran dalam keadaan bagaimana pun. Kasihan Pak RT… Dia sudah tidak bisa menambah ketegangan pada kontolnya! Stress….

Akibatnya, hasilnya mudah ditebak. Kontol kami semua lebih besar dibandingkan kontol Pak RT. Karena kasihan, segala permintaan kami diperkenankan diganti dengan satu permintaan terbaru: Pak RT boleh memilih salah satu dari kami untuk membobol liang duburnya saat itu juga disaksikan seluruh pekerja bakti!

Setelah mempertimbangkan untung-ruginya, Pak RT dengan lesu menyetujui hal tersebut. Dia memilih Pak Edi!

Aku tidak tahu alasan pasti Pak RT memilih Pak Edi. Padahal kontol terbesar adalah Bang Jali. Kalau mau yang segar muda, ya Bang Nasrul. Yang panjangan, Mang Udin. Akh… apa ya alasannya? Aku penasaran….

Pak RT dengan polosnya langsung menungging di tengah ruangan. Pak Edi pun tidak menunggu lama. Ia langsung menghujamkan kontolnya ke dubur Pak RT. Tidak ada hambatan. Selain ukuran kontol Pak Edi tidak terlalu super, lubang Pak RT pun lumayan besar.

Pak Edi terus memaju-mundurkan kontolnya. Sesekali ia angkat ke belakang badan Pak RT untuk memperlihatkan kontol Pak RT. Luar biasa! Pak RT kali ini benar-benar ngaceng! Dan ternyata…. ukurannya tetap yang terkecil! Hik…hik…

Hampir satu jam Pak Edi menunggangi Pak RT. Ia mengerang dahsyat setelah berhasil menyemburkan pejunya di lubang dubur Pak RT. Jantan! Pak RT sendiri sudah tiga kali melelehkan pejunya saat dirojok kontol Pak Edi. Hwalaaahhh…

Taruhan usai. Semua meninggalkan aula. Pak RT dan Pak Edi terakhir keluar. Aku sengaja membarengi mereka. Dan…. tak sengaja aku mendengar Pak Edi berbisik kepada Pak RT:

“Jangan khawatir! Lubangmu masih lebih sempit dibandingkan isterimu!”