Sejak malam sebelumnya hujan sangat lebat, bahkan hingga pagi itu hujan masih turun rintik-rintik diseling dengan guyuran yang cukup lebat.Pagi itu kantor masih sepi,padahal jam sudah menunjukkan pukul 09:00.Mungkin jalanan banyak yang macet. Atau boleh jadi banyak pegawai yang mencoba menunggu dan berharap hujan akan segera reda.Ataukah ada wilayah kota yang terkena banjir? Sehingga banyak pegawai yang tak bisa ke kantor.

Pagi itu ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Untunglah Jovi salah seorang stafku sudah tiba di kantor.Rumah Jovi memang agak dekat dari kantor, karena itu dia selalu datang paling pagi di kantor. Pagi itu aku harus mencocok -kan laporan keuangan yang masuk dengan data yang aku punyai. Sebetulnya aku bisa mengerjakan sendiri pekerjaan itu, tetapi akan memerlukan waktu lama dan harus dikerjakan dengan extra teliti. Dengan bantuan Jovi proses dapat ber-jalan lebih cepat dan bisa saling cross check.

JOVI PEMUDA ELOK

Jovi adalah pemuda yang elok.Wajahnya tampan,kulitnya putih bersih, rambutnya berombak.Seperti umumnya remaja “zaman sekarang”, agaknya Jovi rajin fitness atau latihan beban.Karena kulihat tubuh Jovi [lean] ramping, tapi atletis dan enak dilihat. Sebetulnya sejak Jovi bergabung di perusahaan kami, kira-kira setahun sebelumnya aku sudah punya perhatian khusus pada pemuda itu.Setahuku,Jovi berijazah D-3 [dulu setingkat Sarjana Muda].Karena itu Jovi umurnya baru dua-puluhan, mungkin 21 atau 22 tahun.

Kami duduk berdampingan di meja rapat yang besar, di kamar kerjaku. Masing-masing kami menghadapi lap top.Aku mencoba untuk konsentrasi pada angka-angka yang sedang aku cocokkan dengan angka-angka yang ada di lap top Jovi dan dia menyebutkan angka-angka itu satu persatu. Aku pura-pura mencocok-kan angka-angka tersebut di lap topku.Tapi pikiranku pada diri Jovi. Sementara hujan di luar bukan makin mereda, malah makin lebat. Suasana dalam ruang kerjaku jadi agak gelap karena udara di luar mendung. Karena itu aku menyala-kan lampu lebih banyak di ruang kerja itu.Ternyata pagi itu hujan lebat luar biasa.

“Mungkin akan kiamat.Seperti hujan lebat dan banjir dalam kisah Nabi Nuh a.s. yang diceritakan dalam Al Quran maupun Al Kitab”, demikian aku berpikir dalam hatiku. Ngaco!

Aku tak bisa lagi berkonsentrasi. Karena itu aku minta Jovi untuk menghentikan dulu pekerjaan itu. Kataku :

“Kita istirahat sebentar. Supaya bisa tetap teliti”

Maka kami pun menghentikan pekerjaan kami dan aku bicara ke barat ke timur untuk menghilangkan suasana yang kaku dan dingin itu – sekedar untuk cheer up ! Aku lihat Jovi menjawab seperlunya, sekedar basa-basi saja!

Pelan-pelan aku meletakkan tanganku di bahu Jovi. Aku bisa melihat sikap Jovi yang terkesan merasa canggung aku berbuat seperti itu. Tetapi aku nekat saja melanjutkan mengusap-usap atau mengelus -ngelus punggungnya dan akhirnya aku tak tahan lagi ! Aku pun memeluk Jovi menciumi lehernya dan aku langsung melumat bibirnya yang merah merekah, ranum tapi jantan dan kelaki-lakian itu ! Jovi bergidik,mungkin kaget, takut, atau geli ? Aku tak tahu ! Tapi aku menikmati perbuatanku itu. Aku bahkan berbuat lebih jauh lagi. Aku melepas kancing baju kemeja Jovi, satu per satu dan terus ke bawah sampai ke celananya. Lalu celana beserta kancutnya aku plorotkan…. dan tanpa malu dan tanpa ragu, aku mulai mengisap dan menjilati kontol remaja Jovi yang berukuran besar tersunat ketat. Jovi terdiam waktu aku perlakukan macam itu.Dia seperti terpaku atau terhipnotis. Ataukah memang Jovi juga sering berharap mengalami kejadian seperti itu :” A dream comes true?” [artinya : Mimpi yang jadi kenyataan ?].

Aku berjongkok di depan Jovi, bagaikan orang Jawa sedang sungkeman pada sesepuhnya di Hari Lebaran.Sementara Jovi duduk menelentang di kursi tempat rapat itu.Kedua pahanya seperti dikangkangkan lebar-lebar seakan ia menggelar kontolnya ke depan untukku, ya untukku saja. Maka, sambil berjongok, aku mulai bekerja,mencabulinya dan dengan mulut serta lidah aku mengisap sambil sekali -sekali menjilati kontolnya !

Aku merasa asyik menjilati, mengisap, dan mengurut-ngurut kontol Jovi. Aku juga tidak menyia-nyiakan “kesempatan emas” itu untuk menggerayangi tubuhnya dengan jemariku : puting susunya, perutnya yang rata dan berortot, hamparan jembutnya yang hitam, tebal dan tumbuh lua.Semua aku nikmati dengan rabaan jemariku.Lalu jemariku juga “tidak lupa” menyodok-nyodok ketiaknya untuk bisa “memeriksa” kelebatan bulu-keteknya.Kemudian, tanganku aku selipkan dibawah bokong Jovi.Kemudian jari-telunjukku aku sodok-sodokkan ke silitnya. Mungkin aku melakukannya terlalu kasar, sebab aku dapat merasakan gelinjang kaget di tubuh Jovi,diiringi suara : “Agh!” dari mulutnya… dan kemudian : CROOOOTT! CROOOOTT! CROOOOTT!

Pejuh Jovi muncrat tak tertahankan lagi akibat kelenjar prostatnya terpijat-pijat oleh telunjukku – waktu aku memeriksa keperawanan silitnya! Aku masih sempat melihat muncratnya pejuh Jovi dari lobang kencingnya ! Pejuhnya yang putih itu seakan meloncat-loncat ke udara dari arah lobang kencingnya. Seperti magma gunung berapi [volcano] yang sedang meletup [erupsi] ! Tentu saja aku tak mau menyia-nyiakan “golden opportunity” itu!Karena itu aku pun mengisap kontol Jovi lagi – agar aku bisa merasakan denyutan-denyutan di kontolnya – saat pejuhnya sedang dipompakan supaya keluar !Semua pejuh Jovi aku telan buat meneguh -kan kelaki-lakianku dan sekaligus untuk “obat awet muda” ! Ta’i !

EPILOGUE ATAU AFTERMATH

Sayang sekali,itu adalah yang pertama dan terakhir kalinya aku dapat mencabuli Jovi.Sebab, setelah itu tidak pernah ada lagi pagi hari dengan hujan lebat yang membuat orang tidak datang ke kantor- seperti pagi jahanam itu.Mungkin itu ada lah puncak musim hujan – siklus dua-puluh atau sepuluh-tahunan.Tapi ‘kan tidak mungkin kalau aku harus menunggu sepuluh atau dua puluh tahun lagi untuk mencabuli Jovi, bukan…