Salah satu kesukaanku adalah melihat-lihat proyek bangunan atau proyek pembangunan. Tetapi jangan salah kira, aku bukannya tertarik pada konstruksi atau arsitektur bangunan,tapi jujur saja yang aku lihat adalah kuli bangunan.Biasanya diantara para kuli bangunan di suatu proyek ada saja satu atau dua orang yang enak dilihat dan “bersih”. Untuk bisa masuk suatu proyek bangunan tentu saja ada kiatnya,karena biasanya proyek bangunan adalah suatu lokasi tertutup dan dijaga oleh Satpam atau bahkan terkadang dijaga oleh aparat keamanan.

Kiat untuk bisa sering-sering masuk ke lokasi proyek adalah : pertama pendekatan dengan para penjaga lokasi tersebut,langkah kedua mengembang-kan pertemanan dengan mereka dan harus mau rajin-rajin memberikan tip. Setelah itu maka biasanya kapan saja kita bisa masuk untuk “menikmati” keindahan tubuh para kuli bangunan.

Pada suatu kali di dekat gedung apartemen tempat aku tinggal dibangun gedung apartemen baru. Maka seperti bisa aku mengembangkan perkenalan dengan para Satpam yang mengawal proyek bangunan itu.Hal ini tidak sukar.Kuncinya hanya satu yaitu: UANG!

Ya.Uang untuk tip bagi para Satpam atau pengawal di situ. Dengan modal sedikit uang dan kadang-kadang rokok atau nasi bungkus maka aku diizinkan untuk masuk atau keluar kapan saja aku mau di lokasi proyek itu.

Agar tidak menyolok maka aku hanya masuk sekali-sekali saja.Aku berpura-pura melihat cara men-cor semen, pemasangan intalasi atau apa saja,sekedar untuk mencari dan mencuri kesempatan kalau-kalau ada kuli yang ganteng dan bersih bekerja disitu. Kalau aku beruntung,aku juga bisa memergoki kuli sedang mandi sore telanjang bulat!Indah, jantan dan sexy tampaknya.Seringkali para kuli itu mandi sore bertelanjang bulat di sudut lokasi bangunan, tanpa dinding atau penutup apapun.Aku suka sekali berkesempatan memergoki lelaki sedang mandi ber-telanjang bulat,frontal dari depan!Biasanya yang tampak nyata adalah jembutnya yang berwarna hitam melatar-belakangi kontol mereka yang rata-rata sudah sunat itu!Umumnya mereka tidak acuh dan tak peduli ada orang lain di sekitar situ, sementara mereka sedang dalam keadaan bertelanjang bulat! Dalam hal bertelanjang bulat,memang para kuli ini sangat PD = Percaya Diri. Mereka tidak ragu untuk memperlihatkan kontolnya pada orang lain!Jantann!

JUMPA DENI SANG MANDOR KULI

Demikianlah pada suatu sore aku masuk ke lokasi bangunan apartemen baru dekat rumahku. Sekilas aku melihat seorang pemuda [kuli] yang menurut selera dan penilaianku dia berwajah amat menarik [ganteng] dan bersih.

Kelak aku tahu dia bernama Deni.Sewaktu aku jumpa Deni pertama kali dia sedang telanjang dada hanya bercelana jeans pendek,baju kaosnya yang hitam kuning disampirkan di bahunya.Dia memakai sandal jepit. Dada dan perutnya amat indah!Dadanya amat menonjol kedepan dengan puting susu yang jantan dan tegang, tampak melenting.

Perutnya rata itu bertonjolan otot dan membentuk six-packs.Lengannya besar dan kekar dan waktu dia mengangkat tangannya keatas aku bisa melihat pola pertumbuhan bulu-keteknya yang tampak memanjang di sepanjang dataran ketiaknya!Indah dan menawan! Ta’i!

Tentu saja aku jadi jatuh hati pada Deni dan mau tidak-mau, suka tidak-suka, kontolku jadi tegang [ngaceng] terangsang oleh penampilannya yang sexy itu! Saat itu juga aku memasang niat bahwa : “Aku harus dan aku akan mencabulinya”.

Rupanya Deni sedang istirahat,dia duduk di suatu bangku panjang yang dibuat dari sisa-sisa kayu bangunan dan mulai merokok kretek Gudang Garam. Tanpa malu-malu aku mengajak berkenalan,lalu kami bersalaman, dan aku pun duduk di sampingnya.

Kebetulan perempuan yang berjualan di warung kagetan di sudut lokasi bangunan saat itu lewat di situ, maka kesempatan itu aku gunakan untuk menawarinya minum kopi dan gorengan.Kami ngobrol, tentang apa saja, tentang kampungnya, tentang sekolahnya dan tentang lapangan kerja yang makin sulit karena banyaknya kuli yang berdatangan ke Jakarta dari berbagai daerah di sekitar Jakarta untuk mencari pekerjaan.Dari obrolan itulah aku jadi tahu namanya dan bahwa dia punya ijazah STM Bangunan. Deni sebetulnya bukan kuli tapi mandor [supervisor].

Status dan pendidikan Deni yang lebih tinggi dari para kuli lainnya jadinya seperti memberikan aku “excuse” untuk merasa sah-sah saja melakukan PDKT = pendekatan pada Deni.

Selama aku ngobrol dengan Deni aku terus melaku-kan eksplorasi tentang dirinya,tubuhnya dan juga kebersihannya. Meskipun berstatus setengah kuli, tapi aku tidak mencium bau badan, bau keringat, atau bau ketek dari tubuh Deni. Dengan tingkat pendidikannya yang ternyata STM Bangunan itu,Deni cukup menyenangkan untuk diajak ngobrol.

Berbeda kuli-kuli lainnya, Deni tidak menginap atau tinggal di bedeng selama proyek bangunan itu masih berlangsung. Dia tiap sore pulang ke rumah kontrakannya. Deni sudah menggeluti pekerjaan sebagai mandor bangunan itu selama dua tahun. Pekerjaan itu didapat karena Deni punyai koneksi. Kebetulan salah seorang paman Deni bekerja di bagian administrasi dari perusahaan kontraktor proyek itu.

Aku amat menikmati keberduaanku dengan Deni dan aku makin jatuh hati pada Deni. Hatiku berbunga-bunga,tanpa malu-malu aku mengajaknya agar kapan-kapan dia datang ke apartemenku. Pikiranku yang kotor berpikir dan berharap pada gilirannya nanti aku dapat main cabul dengan Deni jika dia datang ke tempatku! Alangkah nikmatnya berpelukan dan bercipokan dengan Deni – walau pun dia “hanya” seorang mandor kuli bangunan saja!

DENI AKU CABULI PAKSA

Selama dua hari otakku dipenuhi oleh bayangan tentang Deni. Oleh karena itu pada hari ketiga aku izin pulang dari kantor lebih awal pada bos-ku dengan alasan ada urusan keluarga. Setibanya di rumah aku ganti baju santai.Mengenakan sandal jepit dan membawa uang secukupnya untuk tip para Satpam penjaga lokasi bangunan tempat Deni kerja. Aku langsung berangkat ke lokasi bangunan, akan mencari Deni untuk mengobati rasa rindu dendam dan berahiku. Waktu itu hari sudah jam 14:00. Agak lama aku mencari-cari Deni dan akhirnya ada kuli yang memberitahu aku bahwa Deni sedang ber-ada di kantor.Yang disebut “kantor” adalah suatu ruangan dibawah bedeng tempat kuli-kuli menginap. Aku segera pergi ke kantor itu lalu mengetok dan lalu membuka pintu kantor. Ternyata memang Deni ada di dalam.Dia aku lihat sedang menulis-nulis. Melihat aku,Deni segera menyapa, menyilahkan aku masuk. Katanya :

“Silahkan Mas. Silahkan duduk. Saya kerjain ini dulu ya?.Sebentar”,siang itu Deni mengenakan baju kotak-kotak biru dan celana jeans biru. Berbeda dengan perjumpaaanku yang pertama dengan Deni dimana saat itu dia berpenampilan kuli, kali ini Deni seperti pegawai kantoran.Sesuai dengan level -nya yang mandor atau supervisor itu.

Karena aku sudah dua hari rindu dan kangen serta “pre-occupied” dengan Deni, maka tidak heran jika siang itu aku jadi mabuk kepayang. Deni terkesan tampan sekali dengan penampilannya yang bersih dan tampak “terpelajar” itu.Nafasku jadi memburu, aliran darahku berdesir-desir,jantungku berdebar-debar,kontolku ngaceng,tegang, keras,terasa agak sakit karena amat tegang akibat nafsu berahi yang membara akibat berjumpa dengan Deni!

Aku berusaha mengendalikan nafsuku.Tapi obat dan ramuan aphrodisiac [penguat nafsu sex] yang tidak pernah putus-putusnya aku minum sejak beberapa tahun sebelumnya terlalu menguasai fisikku.Tubuh-ku yang besar,berotot,dan terlatih bela diri itu membuat aku terdorong untuk “menaklukkan” Deni lahir batin dengan kekuatan fisik! Kalau perlu dengan kekerasan! Memperkosa Deni? Tubuhku dan tubuh Deni hampir sama besar tapi aku merasa aku lebih terlatih dan lebih berotot.

Aku melirik seluruh ruangan kantor yang dinding-nya dibuat dari papan bercampur triplex di sana-sini.Aku melihat jendela kaca,AC yang berdengung dan pintu.Ketika Deni berdiri membuka lemari aku berbalik ke pintu dan diam-diam menguncinya dari dalam.

Waktu Deni duduk kembali di kursinya, aku sudah kembali dalam posisi dudukku yang semula dan aku mencoba memulai pembicaraan. Tapi, tak urung aku merasakan suaraku agak bergetar oleh nafsu,emosi, dan berahi yang makin membara.Tapi untunglah Deni tidak memperhatikan hal itu.Aku mulai menghitung jarakku dengan Deni dan akhirnya aku putuskan untuk “bertindak” dan…secepat kilat lengan Deni aku tarik dan aku langsung sudah berada di depan tubuhnya, sangat dekat. Lenganku yang satu lagi dengan cepat merangkul dan setengah memitingnya dengan kuat.Bibirku melumat bibirnya dengan amat bernafsu. Deni coba menghindar…tapi aku tekan.

Aku tekan tubuhnya ke tembok.Ternyata dinding di belakang Deni terbuat dari beton,seandainya dari triplex mungkin sudah jebol karena aku menekan tubuh Deni amat kuat.Aku mencium bau harum parfum Deni dan hal ini membuat nafsuku makin menggila.

Entah apa yang terjadi tiba-tiba aku merasakan ada penyerahan pada pihak Deni.Aku merasakan dia seperti menurut saja.Karena itu lumatan di bibir-nya aku lepaskan dan aku mulai menciumi lehernya yang kekar dan bersih.

Saat itu yang aku dengar hanya suara dengung AC dan suaru cucupan dan kecupan bibirku di leher Deni.Sambil memeluk dan menekankan tubuhku makin rapat ke tubuh Deni aku membisikkan kata-kata permohonan maaf :

“Maaf ya Mas. Tadi saya kasar”,lalu aku mengelus punggungnya dengan elusan sayang. Kemudian aku berlutut dan mulai melepaskan kait-kait celana jeansnya, membuka risletingnya, dan memelorotkan kancutnya untuk mendapatkan kontol Deni.Lalu aku langsung menampak jembutnya yang hitam dan lebat. Agh! Jantann! Amat cocok dengan penampilan Deni yang tampan, atletis,dan berotot!Kemudian tampak kontolnya yang besar,dan disunat ketat. Langsung aku benamkan wajahku di bagian kontolnya untuk menjilati dan mengisapnya agar Deni mendapatkan kenikmatan yang sempurna.

Deni membiarkan saja aku berbuat semauku.Bahkan aku merasakan ada jambakkan ringan dan elusan tangannya di rambut dan kepalaku.Dengan bernafsu aku mencocor kontolnya yang makin tegang, kepala kontolnya berkilat memerah ungu dan “mulut kontol -nya” [lobang kencing] tampak makin menganga.

Karena aku amat bernafsu maka sedotan dan jilatan lidahku di kontol Deni sangat intens:jilat-sedot, jilat-sedot,jilat-sedot,jilat-sedot… kemudian aku merasakan Deni seperti makin mengangkangkan kakinya dan dia mendorong-dorongkan kontolnya ke dalam mulutku ..Aku tahu! Dia ingin terus menerus menambahkan rasa nikmat di kontolnya. Karena itu aku juga membantu untuk menambahkan rasa nikmat di kontol Deni dengan aku sekali-sekali mengocok kontolnya dengan tanganku. Aku mendengar suara Deni mengeluh dan melenguh seperti kerbau yang sedang memamah biak : MMMPH..MMMPH..MMMPH…dan akhirnya aku merasakan Deni makin cepat mendesak-desakkan kontolnya ke dalam mulutku sampai aku hampir tersedak[keselek] karena kontolnya terkena muara kerongkonganku, dan akhirnya ….CROOOOOOT!CROOOOOOOOOOOOOOT! COOOOOOOOOOOOOOOOT!Pejuh Deni muncrat di dalam mulutku. Terasa hangat, kental, lender,dan bau pejuh dalam mulut dan kerongkongan -ku Yah!Pejuh Deni yang selama dua hari aku amat sangat rindukan!

ANTICLIMAX

Itulah kenanganku dengan Deni yang adalah “hanya” seorang Mandor Kuli Bangunan, tetapi kontol dan pejuhnya tidak kalah nikmatnya dengan kontol dan pejuh para cowok selebritis yang Eurasia [Indo].

Kisah ini memang cabul!Tapi itulah kisahku! Kisah dan kenanganku yang amat sangat indah dan manis. Apa adanya,tidak ada yang aku tambah dan tidak ada yang aku kurangi. Sebuah KISAH NYATA [TRUE STORY]! Supaya Deni tidak banyak ulah dan banyak tingkah, maka sewaktu akan meninggalkan kantor Deni aku pun menyelipkan uang Rp 500.000,-[lima ratus ribu rupiah] di kantong bajunya yang bermotif kotak-kotak biru itu,sebagai tali-asih,uang tutup mulut dan sekaligus uang pengganti pejuhnya yang aku minum [uang lendir]! Aku yakin bahwa Deni cukup senang dan puas dengan uang itu, dan tentu juga dengan jilatan dan isapan bibir dan mulutku di kontolnya!

About these ads